Berbagi Ilmu Tari Aceh Di Desa

Mempunyai kemampuan dalam bidang tertentu merupakan sebuah hal yang penting dan perlu dimiliki oleh setiap orang. Namun, menguasai atau memiliki kemampuan tertentu, pastilah tidak didapatkan secara instan atau cuma-cuma. Ada proses-proses tententu yang perlu dilakukan agar dapat mengusai kemampuan itu. Dengan proses yang ada, nantinya seseorang akan dapat mengetahui bagaimana cara agar bisa melakukan sesuatu dari awal hingga sampai benar-benar seseorang itu dapat mengusai kemampuan itu. Dan diharapkan setelah mengusai, dapat menularkan ilmunya untuk berbagi kepada orang-orang disekitarnya.

Begitupun saya pribadi, saat awal-awal menjadi mahasiswa mempunyai ketertarikan menguasai Tari Aceh. Ketertarikan awal saya pada saat itu ada penampilan Tari Aceh di Fakultas saya. Kemudian, saya mencoba mencari informasi terkait organisasi yang berkaitan dengan bagaimana belajar untuk Tari Aceh. Beruntungnya pada saat itu karena saya masih berada disemester awal kuliah, sehingga saya dapat berkesempatan untuk belajar dan mengikuti latihan Tari Aceh di salah satu organisasi dikampus yang bergerak dibidang itu.

Proses belajar Tari Aceh rasa-rasanya tidak cukup apabila hanya dilakukan satu hari atau beberapa minggu saja. Ada banyak gerakan yang dipelajari dan kerjasama dalam tim untuk melakukan gerakan yang baik dan benar. Mengingat, kuliah saya kurang lebih membutuhkan waktu sekitar tiga tahun hingga lulus. Akhirnya, ketika menjadi mahasiswa saya pun menyempatkan waktu untuk membagi aktivitas antara kuliah dan belajar menari.

Perjuangan dan pengorbanan dalam hal latihan sudah banyak saya lakukan selama itu demi bisa mengusai Tari Aceh itu.  Lain halnya itu, selama berkecimpung dalam hal menari saya pun sempat mengikuti berbagai puluhan penampilan baik itu tingkat lokal, nasional maupun internasional.

  Setelah saya lulus dan bekerja, kehidupan sudah menjadi berbeda ketika tidak lagi berkecimpung dalam dunia tari. Mengingat, pada saat itu saya sudah menjadi alumni di organisasi itu. Sehingga, hal yang bisa dilakukan adalah dimana saya dapat berbagi ilmu dan pengalaman yang sudah didapatkan selama bergabung di organisasi Tari Aceh itu. Teramat sayang juga, ketika kita sudah mempunyai ilmu tetapi tidak ditularkan kepada orang-orang. Pada dasarnya, apabila ilmu yang kita miliki tidak dibagikan, maka tidak akan lama kemampuan dalam bidang yang kita miliki pun akan kemungkinan berkurang.

Tepat satu tahun lalu pada bulan Juli 2020, dimana masa-masa pandemi yang mengharuskanku untuk berpindah tempat kerja dikampung halamanku. Saya lulus kuliah Tahun 2017, dimana jarak saya terakhir belajar Tari Aceh hingga pada saat itu kurang lebih tiga tahun. Waktu yang cukup lama bagi saya ketika tidak lagi berlatih maupun menampilkan Tari Aceh. Akan tetapi, hal itu membuat saya tidak putus asa untuk mempunyai keinginan menularkan ilmu tari yang sudah saya dapatkan.

Saya lahir di Provinsi Jawa Tengah dan sebenarnya malah kurang begitu mengusai tarian jawa. Akan tetapi, bukan berarti juga ketika kita berasal dari daerah jawa tidak boleh mengusai Tari Aceh. Negara indonesia memang mempunyai keberagaman dalam hal budaya, jadi wajar-wajar juga ketika kita dapat menguasai tari yang sebenarnya bukan dari provinsi kita sendiri. Terlebih lagi, karena didesa saya sendiri belum ada semacam Komunitas Tari Aceh. Sehingga, saya pun mempunyai ide yang baru untuk membentuk Komunitas Tari di desa yang salah satu didalamnya ada Tari Aceh.

Awal Pembentukan Komunitas Tari Aceh

Pada awal membentuk Komunitas Tari Aceh didesa pada awalnya sempat pesimis. Hal itu dilatarbelakangi karena Tari Aceh itu bukan dari tari provinsi sendiri dan kita juga belum tahu bagaimana respon masyarakat nantinya ketika tari aceh ini hadir. Tapi, dengan tujuan saya mengenalkan kebudayaan tari di daerah lain dan tidak lain hanyalah saya ingin berbagi terkait ilmu tari saya yang pernah saya dapatkan ketika berada dikampus. Akhirnya dengan niat dan keyakinan pada saat itu, saya pun mencoba mencari anggota  untuk bisa bergabung dan pastinya akan menjadi angkatan pertama. Tapi sebelum mencari anggota, saya sempat terkendala dengan masalah penggendang tari. Karena selama saya belajar menari Tari Aceh, saya belum pernah menjadi penggendang pada saat itu.

Bersyukurnya pada saat itu, saya mendapatkan informasi dari seseorang bahwanya ada satu anak yang pernah mengikuti Tari Aceh di sekolahnya dan sekaligus pernah menjadi penggendang. Sontak, aku pun sangat bahagia sekali mendengarnya pada saat itu. Kemudian saya pun langsung bergegas untuk menghampiri anak itu dan mulai berdiskusi terkait Tari Aceh yang nantinya akan diadakan latihan di desa. Selang beberapa hari kita berdiskusi, akhirnya kita membuat sebuah poster yang isinya terkait ajakan kepada anak-anak desa untuk bergabung dalam latihan Tari Aceh.

Proses Latihan Tari Pertama

Bersyukurnya, ketika pada saatnya latihan pertama ada kurang lebih sekitar lima belas orang ikut bergabung dalam latihan ini. Saat berlangsungnya latihan pertama, alhamdullillahnya anak-anak sangat tertarik dan suka ketika baru belajar. Walaupun pada saat itu, ada hal yang membuat mereka mengeluh pada bagian kaki yang sempat terluka karena lama duduk. Luka sakit pada kaki memang hal wajar yang biasa dirasakan oleh penari Tari Aceh pada pertama kalinya. Namun, selang beberpa minggu biasanya nanti akan terbiasa lagi ketika latihan.

Latihan di Balai Desa Bungkanel

Mengingat anggota tari kita tidak semua tinggal dalam satu RT dan mempunyai kesibukannya berbeda-beda. Kerap kali, setiap setengah tahun latihan kami melalukan evaluasi dalam rangka untuk mengubah jadwal yang sesuai dengan waktu kosong anak-anak. Diawal-awal pernah kita memutuskan latihan hanya satu kali dalam 1 minggu yaitu setiap hari jumat siang. Kemudian selang berikutnya kita memutuskan dua hari dalam seminggu dan yang terakhir sempat kita putuskan juga ada latihan tarinya pada malam hari. Tapi dari kesemuanya itu tetap membuat anak-anak memahami dengan kondisi yang ada.

Penampilan Tari Pertama di Panggung

Selang beberapa bulan mereka latihan ada perubahan yang mereka rasakan hingga menjadikan mereka ingin cepat-cepat langsung menampilkan tarian ini. Pada proses dua bulan kita latihan, bersyukurnya kami ada tawaran untuk tampil dalam acara didesa. Kami pun pada saat itu langsung menerima dan langsung mempersiapkan hal-hal yang nantinya bisa memberikan penampilan petama terbaik kita.

Mempersiapkan penampilan pertama, pastinya ada berbagai macam persiapan baik itu dalam hal memikirkan kostum, make up dan atribut lainnya. Karena sebelumnya didesa kami belum pernah ada yang menampilkan tarian ini, otomatis terkait kostum juga pastinya susah mencari. Kalau ada pun, kami harus menyewa kostum tari yang bisa dikatakan harganya cukup mahal dengan harga 60 ribu hingga 100 ribu perkostumnya. Harga segitu bagi kami rasa-rasanya tidak mampu, perihal kami juga belum punya kas keuangan pada saat itu. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai baju yang bermotif sama dengan nantinya kita tambahkan beberapa atribut dikepala yang kondisinya mirip dengan penari-penari aceh biasanya. Tak hanya itu, berkaitan dengan make up yang rasanya-rasanya kita tidak peru beli. Sehingga kita memutuskan untuk memakai make up ala kadarnya yang kita punya.

Pada saat hari penampilan pertama, rasanya cukup deg-degan pada saat itu, karena penampilan Tari Aceh bagi mereka itu penampilan pertama yang rasa-rasanya ada ketakutan tersendiri ketika nantinya ada kesalahan dalam gerakan. Namun, setelah berada dipanggung dan menampilkan tari itu akhirnya mereka berhasil menyelesaikan semua dan membuktikan bahwa mereka bisa. Bagi saya mereka cukup luar biasa dengan perjalanan latihan yang tidak cukup lama, akan tetapi membuahkan hasil kepada penonton dengan apresiasi tepuk tangan yang meriah.

Harapan Kedepannya

Mengharapkan sesuatu kebaikan, pastinya ingin sekali kita rasakan. Perihal terkait permasalahan atau hambatan dalam suatu komunitas/organisasi pastilah ada. Jadi apapun kondisi yang terjadi kedepannya, setidaknya kita dapat melewati segala macam apapun permasalahannya. Minimal terkait latihan, komunikasi dan hubungan baik masing-masing penari terjaga insyaalah komunitas ini akan selalu ada dan terus berkembang.

Sekali lagi, semoga sukses untuk semua dan berdoa selalu untuk dimudahkan segalanya. Amin

Facebook Comments