Pelajari dan Cintai Budaya daerah di Indonesia

Sempat terpikirkan sebelumnya, ketika itu saya masih duduk di bangku semester 3 di Universitas Gadjah Mada (UGM) belum mempunyai skill dalam menguasai satu pun tari daerah yang saya geluti di Indonesia baik itu dari daerah sendiri maupun daerah lainnya. Karena, menurut saya sangat perlu sebagai bangsa Indonesia setidaknya dapat mempelajari, bahkan dapat menguasai tarian itu. Sehingga, kedepannya dapat melestarikan dan berbagi dengan generasi penerus. Walaupun tarian itu bukan berasal dari Tari daerah sendiri, akan tetapi tidak ada salahnya bagi kita juga untuk dapat mempelajari tari daerah lain. Sehingga kita dapat belajar satu sama lain, mengingat masing-masing daerah mempunyai cara sendiri dalam memainkan, memiliki arti sejarah sendiri, dan tak lain mempunyai ciri khas gerakan itu sendiri. Toh, dengan seperti itu akan terus menjadikan Budaya Indonesia tetap terjaga dan terus berkembang menjadi lebih baik.

Sekilas mengenai awal mula saya mulai suka dan bergelut dengan tarian. Pada saat itu, ada salah satu komunitas Tari Aceh yang dibawahi oleh Badan Semi Otonom salah satu fakultas di Universitas Gadjah Mada. Awalnya memang sempat agak ragu dan sempat tidak percaya diri ketika saya harus mendaftar dalam komunitas itu. Mengingat, saya berasal dari daerah Jawa Tengah yang notabenenya mempunyai tarian yang berbeda dengan tarian aceh. Dari sinilah saya mulai mencoba terlebih dahulu akan bagaimana saya dapat mengikuti alur semua kegiatan yang ada pada Komunitas Tari Aceh ini. Sehingga, nantinya saya akan dapat mengetahui tahap demi tahap akan tarian itu. Karena saya pun tidak tahu untuk kedepannya, apakah saya akan bertahan hingga mencapai impian yang ingin saya capai ataupun malah sebaliknya.

Mulai awal menari sebenarnya sudah saya mulai sejak berada duduk di bangku Sekolah Dasar, pada saat itu sekedar tarian yang ditampilkan untuk memeriahkan hari raya kemerdekaan. Hanya saja, semenjak berada di tingkat SLTP dan SLTA justru sudah tidak pernah ikut menari. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa saya tidak mempunyai skill menari sekalipun. Padahal, apabila kita pahami dalam setiap acara-acara baik itu di Desa maupun di Kota banyak sekali kegiatan yang membutuhkan pengisi acara, salah satunya adalah tarian itu. Dimana masyarakat sekitar akan tertarik dengan tarian-tarian yang pastinya akan dapat menghibur. Kadang juga, tarian itu akan disesuaikan dengan acaranya, seperti tarian yang bersifat penyambutan, pengiring, maupun lainnya.

http://ridwan12.web.ugm.ac.id/wp-admin/post.php?post=1617&action=edit

Kurang lebih Sekitar 2 sampai 3 bulan saya berlatih dan bergelut di Komunitas Tari Aceh ini. Dari situlah, saya mulai jatuh cinta dengan hal-hal yang diajarkan dari mulai gerakan, kekompakkan sampai kita belajar makna dari tarian itu sendiri. Tari Aceh sendiri sangat bermacam-macam, yang saya ketahui ada sekitar 9 macam tarian yaitu : Tari Likok Pulo, Tari Rapai Geleng, Tari Ratoeh Jaro, Tari Pukat, Tari meusare-sari, Tari Top Pade, Tari Ranup Lampuam, Tari Saman Gayo dan Tari Seudari. Kesemua tarian itu, mempunyai teknik gerakan dan makna tersendiri. Sehingga dari beragam gerakan itulah yang  menjadikan warna dan keunikan Tari Aceh itu sendiri. Kadang orang ada yang beranggapan salah mengartikan Tari Aceh sendiri, orang hanya tahu satu tarian daerah yang berasal dari Aceh yaitu Tari Saman. Padahal tidak semua tarian yang di Aceh itu adalah Tari Saman. Dan di tarian Aceh-lah, masing-masing tarian dimainkan oleh penari yang berbeda-beda. Adakalanya tarian itu dimainkan oleh putra semua, putri semua, maupun kolaborasti antara putra-putri. Perbedaanya lagi juga terletak pada alat musik yang dimainkan.

Mengingat tarian Aceh, tidak semua tarian saya bisa ikuti. Sehingga hanya tarian yang dimainkan oleh putra maupun kolaborasi putra-putri yang bisa saya mainkan. Beberapa tarian yang sudah cukup saya kuasai diantaranya, seperti Tari Likok Pulo, Tari Rapai Geleng, Tari Saman Gayo, dan Tari Meusare-sare. Dari beberapa tarian itu, Tari Rapai Geleng lah yang paling saya sukai.

Tari Rapa’i Geleng adalah sebuah tarian tradisional asal Aceh yang berasal dari wilayah Aceh Selatan. Tari Rapa’i Geleng ini dikembangkan oleh seorang anonim di Aceh Selatan. Permainan Rapa’i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair yang dinyanyikan, kostum dan gerak dasar dari unsur Tari Meuseukat. Dari sinilah, kita diajarkan juga bagaimana memberikan pesona terbaik kepada penonton. Agar penonton juga dapat menikmati tarian yang ditampilkan.

Jenis tarian ini dimaksudkan untuk laki-laki. Biasanya yang memainkan tarian ini ada 12 orang laki-laki yang sudah terlatih. Syair yang dibawakan adalah sosialisasi kepada masyarakat tentang bagaimana hidup bermasyarakat, beragama dan solidaritas yang dijunjung tinggi. Fungsi dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan juga menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial. Khususnya bagi muslim, mengingat tarian ini sepenuhnya membawakan syair-syair pujian agama islam. Maka dari itu, kadang bagi yang mendengarkan akan tersentuh hatinya dan mencoba untuk mengikuti gerakannyanya.

Beberapa pengalaman saya menggeluti tarian ini kurang lebih 3 tahun dan menampilkan tarian ini lebih dari 20 kali, baik itu dalam hal acara undangan, festival maupun perlombaan. Setiap kali menampilkan tarian ini, sungguh apresiasi dari penonton sangat luar biasa sekali. Terlebih dalam hal perlombaan, tarian ini selalu mendapatkan juara baik itu 1, 2, maupun 3. Bagi saya sendiri sangat kagum dan sangat bersyukur akan kesempatan ini, hingga saya dapat menggeluti salah satu tari daerah ini. Apresiasi dan juara itu didasari memang dari setiap gerakan itu akan membawa penonton terkagum-kagum dari apa yang dimainkan. Gerakan yang dimainkan itu dengan cara kepala digelengkan, dan ada pada saatnya alat musik yang dimainkan di lempar kepada penari lainnya.

Berbicara mengenai melestarikan budaya Indonesia, pastilah sangat penting sekali bagi saya sendiri maupun warga Indonesia lainnya. Mengingat, anak muda sekarang cenderung lebih suka mengikuti budaya-budaya luar yang malah mengakibatkan pada ketidakmampuan dalam melestarikan dan mengangakat budaya indoesia itu sendiri. Maka dari situlah, perlu adanya calon generasi-generasi muda yang dapat membangunkan jiwa semangat kepada generasi lain agar dapat mencintai budaya sendiri. Karena siapa lagi kalau bukan kita yang meneruskan, dan tidak harus budaya daerah sendiri yang kita pelajari. Melainkan kita dapat mempelajari budaya dari daerah lain juga. Dengan begitulah, satu sama lain dapat saling memahami dan bergerak bersama untuk terus melestarikan budaya Indonesia ini.

Dapat dikatakan, bahwa saya salah satu orang yang sangat suka dengan hal-hal yang berbau seni dan budaya. Dari mulai kegiatan yang pernah saya ikuti dari tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Kesemuanya itu ada kaitannya dengan seni dan budaya. Sehingga, dari hasil kegiatan itu saya mendapatkan beberapa souvenir baik itu kaus maupun barang-barang yang mempunyai arti seni dan budaya. Dari sinilah, saya berharap kepada calon-calon penerus bangsa dapat terus mencintai dan mengembangkan seni dan budaya Indonesia. Serta dapat membangkitkan semua orang, khususnya mahasiswa untuk dapat melestariakan budaya tari kita sendiri yaitu Budaya Tari Indonesia.

Beberapa Penampilan Tari Aceh yang pernah saya ikuti :

TARI  LIKOK PULO

  1. Rampoe UGM Kolaborasi Liok Pulo Putra-putri di Etnika Fest pada hari minggu, 10 mei 2015. Lihat
  2. Rampoe UGM di World Earth Day Pada Tanggal 01 Maret 2014 (Tari Likok Pulo) Monumen. Lihat
  3. Rampoe UGM di Seminar Nasional UC UGM Pada Hari Kamis, 08 Mei 2014 Di Univercity Club – UGM. Lihat
  4. Acara Grand Opening RDK (Ramadhan Di Kampus) 1435 H dengan jumlah penari laki-laki 11 orang Tim Likok Pulo RAMPOE UGM di Depan Masjid Kampus UGM
  5. Farmer on Campus, Pada hari Kamis, 02 Oktober 2014 di GSP UGM. Lihat
  6. Seminar Pra Nikah Pada Hari Sabtu, 18 Oktober 2014 di Auditorium Fak. Biologi. Lihat
  7. Tari Kolaborasi Likok Pulo Putra & Putri Rampoe UGM di Grand Opening FKA Pada Hari Sabtu, 25 Oktober 2015 di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya. Lihat
  8. di FEB Rampoe UGM di UGM Expo 2014 (Kolaborasi Tari Likok Pulo). Lihat
  9. Tari Likok Pulo Street Performance Rampoe UGM @GakeriMall (14/06. Lihat

TARI RAPAI GELENG

  1. Tari Rapa’i Geleng Rampoe UGM di Lomba Tari dalam Rangka Memperingati Hari Lingkungan Hidup dalam Acara Enviro Festival 2015 Pada hari selasa – Rabu, 09-10 Juni 2015 di Auditorium Kahar Mudzakir Universitas Islam Indonesia. Lihat
  2. Tari Rapa’i Geleng Rampoe UGM di Lomba Final Sasana Debat Mahasiswa UGM (SADEWA) 2015 di Fakultas Hukum UGM Pada tanggal 06 Juni 2015. Lihat
  3. Tari Rapa’i Geleng Rampoe UGM di Car Freeday Tribun Jogja (Rapa’i Geleng) pada hari Sabtu, 16 Mei 2015. Lihat
  4. Tari Rapa’i Geleng oleh 11 Penari Pria Rampoe UGM Pada Pernikahan Mba Tazkia dan Mas Yogi Hari Ahad, 05 April 2015 di Wirosaban – Yogyakarta. Lihat
  5. Tari Rapa’i Geleng oleh 12 Penari Pria Rampoe UGM Pada Seminar Nasional Pemuda Anti Korupsi – Youth Power 2015 oleh jurusan Sosiologi UGM Hari Sabtu, 07 Maret 2015 di IONs (Internasional Educations) Yogyakarta. Lihat
  6. Tari Rapai Geleng Angkatan 5 Putra Rampoe UGM Hari Ahad, 14 Desember 2014 di Tourism Anniversary- Sekolah Vokasi UGM. Lihat
  7. Penampilan Tari Rapai Geleng Rampoe UGM Saat Kunjungan NYIFF 2016 (12/10)di taiwan. Lihat
  8. Street Performance Tari Rapai Geleng Rampoe UGM Diplomasi Taiwan. Lihat
  9. Tari Rapai Geleng Rampoe UGM di Ramadhan Festive Galeria @GaleriaMall (14/06. Lihat
  10. Tari Rapai Geleng Street Performance Rampoe UGM @GaleriaMall (14/06. Lihat
  11. Rampoe UGM – Nan Ying International Folklore Festival 2016 (Rapa’i Geleng). Lihat
  12. Rampoe UGM – Gelar Budaya Kalijaga 2015 (Rapa’i Geleng). Lihat
  13. Tari Rapa’i Geleng di Gebyar Kebudayaan 2015 di UMY. Lihat
  14. Rampoe UGM di Malam Kreasi BSO FIB UGM (Rapa’i Geleng). Lihat

TARI MEUSARE-SARE (Tari Top Pade dan Tari Tarek pukat

  1. Ditampilkan pada acara at the 16th Asian-Australian Association of Animal Production Societes Congresss “Sustainable Livestock Production in the Prespective of Food Security, Policy, Genetic Resource and Climate Change” universitas Gadjah mada, 10-14 nov 2014. lihat
  2. Rampoe UGM – Pesona Aceh di Jogja (Meusare Sare). Lihat
  3. Rampoe UGM – Nan Ying International Folklore Festival 2016 (Rapa’i Ratoeh Pukat). Lihat
  4. Rampoe UGM – Festival of Colours of The World 2016 (Meusare-sare). Lihat
  5. Tari Meusare sare (Tari Top pade dan Tari Tarek Pukat) di Auditorium FIB (Persiapan NFF 2017). Lihat
  6. Penampilan Tari Ratoeh Pukat Rampoe UGM di SD Taiwan NYIFF 2017. Lihat
  7. Rampoe UGM – Opening Nan Ying International Folklore Festival 2016 (Ratoeh Pukat) Taiwan. Lihat
  8. Rampoe UGM di Seminar Young & Shine Enterpreneur Meusare sare. Lihat