Berziarah Ke 9 Tempat Wisata Religi di Jawa Tengah

Berziarah memang banyak macamnya, tidak hanya bertaraf ziarah ke makam walisongo. Namun berziarah juga bisa dilakukan ditempat wisata-wisata religi lainnya. Terlebih lagi, hukum ziarah makam wali itu sama seperti ziarah ke seluruh pemakaman muslim yaitu sunah. Perihal ziarah kubur ini merupakan amalan sunah yang sangat dianjurkan dalam islam, disisi lain ziarah kubur juga termasuk ibadah yang mulia di sisi Allah sebagai bentuk penghormatan bagi orang yang sudah meninggal. Dengan adanya ziarah kubur, setidaknya kita sebagai muslim akan mengingat bahwa kematian itu nyata adanya.

Anjuran melakukan ziarah kubur ini telah termaktub dalam suatu hadits, bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku telah melarang kalian untuk berziarah kubur. Maka (sekarang) ziarahlah karena akan bisa mengingatkan kepada akhirat dan akan menambah kebaikan bagi kalian dengan menziarahinya. Barangsiapa yang ingin berziarah maka lakukanlah dan jangan kalian mengatakan ‘hujran’ (ucapan-ucapan batil)”. (HR Muslim)

Tulisan ini saya buat, karena saya baru merasakan pengalaman ziarah yang berbeda dari ziarah sebelum-sebelumnya. Intinya dari beberapa tempat ziarah yang pernah saya kunjungi, untuk kali ini ada kesan tersendiri. Terlebih lagi, tulisan ini diharapkan bisa menjadi gambaran bagi kalian juga ketika mau berziarah dengan berbagai tempat dan kondisinya rombongan. Sehingga pada saat ziarah, hal-hal yang akan disiapkan sudah benar-benar paham apa yang akan dilakukan.

Karena jujur bagi saya sendiri yang notobenenya sudah beberapa tahun belakangan tidak melakukan wisata religi, sehingga ada rasa sempat bingung perihal persiapan atau langkah apa ketika kita akan mengunjungi tempat itu. Mohon maaf juga, apabila ada tulisan saya yang kurang berkenan atau kurang baik bagi para pembaca.

Berziarah di sekitar kampung dekat dari desaku sebenarnya sudah sempat saya lakukan beberapa kali. Namun apabila ke tempat wisata religi diluar daerah kabupaten belum sempat terealisasi karena alasan beberapa hal. Baik itu karena masih dalam kondisi covid-19 maupun belum ada waktu yang pas untuk berpartisipasi dalam mengikuti ziarah. Terlebih lagi sebelum tahun 2019 saya masih kerja merantau, membuat kondisi belum berkesempatan ada waktu. Barulah pada saat saya kembali memutuskan didesa, akhirnya saya mempunyai informasi terkait ada yang mau mengadakan kegiatan ziarah.

Tepat pada awal bulan November 2021 terdapat informasi lewat poster yang memberitahukan bahwasanya terdapat kegiatan ziarah wali, ulama, dan auliya jawa tengah oleh Madin As Shobari dengan tempat wisata religi sejumlah 10 dan pelaksanaannya tanggal 24-25 Desember 2021. Melihat tanggal yang sudah ditentukan dan waktu saya yang punya juga ada. Sehingga saya sangat tertarik untuk mengikutinya dan langsung mendaftar langsung ke nomer yang dituju.

Namun, pada akhir Bulan November terdapat informasi yang memberitahukan bahwsanya ada PPKM kembali perihal adanya virus varian baru yaitu omicron. Sehingga dari panitia memutuskan untuk memajukkan pelaksanaannya menjadi tanggal 17-18 Desember 2021.

Sebelum hari H pelaksanaan, tepatnya pada hari kamis (16/12)  Pukul 20.00 WIB diadakan pertemuan terlebih dahulu para peserta yang akan mengikuti. Tujuan dengan adanya pertemuan ini untuk memberikan informasi terkait informasi perjalanan dan persiapan apa saja yang harus disiapkan.

Pemberangkatan Menuju Tempat Ziarah

Hari H pelaksanaan. Tepatnya pada hari jumat (17/12) Pukul 15.30 WIB, semua peserta diharuskan sudah berkumpul dilapangan Desa Bungkanel. Waktu sudah menunjukan Pukul 16.00 WIB, alhamdulillah semua peserta rombongan zizarah sudah masuk didalam bus. Sebelum bus berangkat, mula-mula kita berdoa terlebih dahulu demi keselamatan selama perjalanan. Barulah setelah itu, bus barulah berangkat dengan diiringi musik lagu islami yang diputar didalam bus.

Semua Peserta Rombongan berada didalam Bus

Dipertengahan perjalanan bus sempat berhenti. Beberapa menyempatkan untuk membeli makanan di warung, ada yang menyempatkan untuk makan cemilan dan ada juga bagi beberapa kaum laki-laki yang merokok.

Pada saat berhenti sejenak

Makam Habib Ahmad Sapuro (Pekalongan)

Perjalanan kami dari purbalingga menuju pekalongan itu melewati pemalang terlebih dahulu. Sekitar Pukul 20.30 WIB, kami sampai ditempat makam Habib Ahmad Sapuro pekalongan. Setibanya ditempat, mengingat kami belum shalat maghrib dan isya. Sehingga kami sempatkan melaksanakan kedua shalat itu dengan dijama’.

Tempat Shalat di Makam Sapuro Pekalongan

Usai dari shalat, kami berkumpul kembali untuk masuk kedalam makam untuk berdoa. Didalam makam ternyata sudah ada pengunjung lainnya yang sedang melantunkan tahlil dan doa. Otomatis karena tidak hanya kami didalam makam tersebut, kami perlu mencari tempat yang kosong yang bisa membuat kami duduk. Barulah setelah kami duduk, mulailah lantunan tahlil disuarakan bersama-sama hingga doa dan membaca shalawat.

Halaman Depan Makam Sapuro pekalongan

Usai dari bedoa, kami pun kembali ke bus. Namun karena masih ada waktu sebelum bus berangkat, akhirnya kami pun menyempatkan makan terlebih dahulu dan beberapa ada juga yang menyempatkan membeli oleh-oleh ditempat tujuan yang pertama. Mengingat disekitar tempat makam terdapat para penjual, terutama menjual berbagai macam pakaian.

Tempat dagangan disekitar Makam Sapuro Pekalongan

Makam Raden Fatah (Demak)

Tempat kedua dilanjutkan dimakam raden fatah di demak. Karena perjalanan cukup jauh, sehingga kami kembali untuk istirahat kembali dan tidur. Kurang lebih sekitar Pukul 23.30 WIB, kami sampai di tempat parkir bus. Namun untuk menuju ke tempat makam di dekat Masjid Agung Demak, kita harus jalan kaki atau naik motor. Sehingga dari masing-masing kami ada yang memilih naik motor dan ada juga yang memilih jalan kaki.

Masjid Agung Demak

Sesampainya di Masjid Agung Demak, beberapa orang menyempatkan shalat malam terlebih dahulu dan beberapa dari lainnya ada yang langsung menuju ketempat makam sambil menunggu untuk masuk menuju kemakam, kita harus melepas sandal kita dan menaruhnya ditempat loker yang sudah disediakan. Setelah semua berkumpul, barulah doa pun dimulai bersama-sama.

Usai dari doa, kami pun menuju ketempat keluar. Diluar lokasi makam, kami disuguhkan toko-toko penjulaan yang membuat dari kami tergiur untuk membeli sesuatu. Menuju perjalanan ke bus, saya menyempatkan untuk jalan kaki dan sambil mengobrol salah satu peserta ziarah yang notabenenya ia merupakan satu alumni sekolah saya sewaktu ada dipondok.

Usai sampai dekat bus, beberapa diantaranya menyempatkan duduk santai disekeliling tempat orang-orang berjualan. Saya pun tak ketinggalan untuk membeli minuman wedang ronde dengan ditemani orang lainnya yang juga ingin menikmati minuman yang ada. Hingga sampailah dimana kami pun melanjutkan kembali ketempat ziarah yang ketiga yaitu masih dikabupaten yang sama yaitu kabupaten demak.

Makam Sunan Kalijaga (Demak)

Kuranglebih 1 jam kurang perjalanan dari Masjid Agung Demak menuju makam sunan kalijaga kadilangu demak akhirnya sampai. Turun dari bus, kami langsung bergegas menuju ke tempat makam. Tidak jauh berbeda seperti sebelumnya, dimana untuk masuk makam kami harus menaruh tempat sandal yang sudah disediakan. Kemudian disekeliling lokasi malam ada juga tempat amal, ada tempat WC, dan yang tak lupa lagi adalah dimana disepanjang perjalanan menuju kemakam kita disuguhkan beberapa toko yang tetap membuat beberapa diantara kami ada yang beli.

Pintu Masuk Makam Sunan Kalijaga
Saat berada di tempat toko-toko

Sekitar Pukul 02.30 kami semua keluar dari makam ini dan menuju ketempat bus untuk melanjutkan perjalanan ketempat keempat ziarah kita yaitu di Kota Kudus ke Makam Sunan Kudus di kompleks Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah.

Makam Sunan Kudus (Kudus)

Sekitar Pukul 04.00 WIB kami sampai ditempat parkir bus dan untuk menuju ketempat makam dapat dikatakan cukup jauh. Sehingga kami harus memutuskan kembali dengan menaiki motor. Mengingat 1 motor kalau dinaiki 1 orang lebih mahal, sehingga dari kami semua memutuskan untuk 1 motor dinaiki 3 orang dengan 2 orang penumpang dari kami dan 1 orang tukang ojeknya. Bagi kami ketika naik bertiga sebenarnya rasanya agak dimana gitu, tapi karena kondisi keterpaksaan ya mau bagaimana lagi, hehe

Didepan Menara Sunan Kudus

Sesampainya ditempat Makam Sunan Kudus sekitar Pukul 04.27 WIB. Dengan waktu yang menunjukan waktu sholat subuh, sehingga kami menyempatkan terlebih dahulu untuk shalat terlebih dahulu dan dllanjutkan menuju makam. Apabila dilihat dari beberapa makam yang sebelumnya dikunjungi, saya rasa di tempat Makam Sunan Kudus ini rasa-rasanya jauh lebih banyak para peziarahnya. Pasalnya, ketika shalat dan kemudian melewati tempat menuju makam selalu ada orang yang berarah lawanan baik itu yang mau masuk maupun keluar dari makam.

Saat Berada di Pintu Masuk ke Makam Sunan Kudus

Sesampainya duduk dimakam pun, disekelilingnya juga sangat penuh orang-orang yang sedang berdoa. Bahkan ada yang rela untuk menunggu giliran untuk berdoa.

Saat Berdoa di Makam Sunan Kudus

Usai dari berdoa, kami pun menuju keluar dan menyempatkan foto-foto didepan menara makam sunan kudus. Selebihnya ada yang sudah langsung menuju tempat parkir motor yang akan membawa kita ketempat parkir bus sebelumnya.

Foto di Depan Menara Kudus

Pada saat sampai di tempat parkiran motor, beberapa ada perdebatan ingin menaiki angkot saja. Namun pada saat itu, ada salah satu tukang ojek memberikan informasi kalau angkot akan datang sekitar Pukul 07.00 WIB. Sedangkan pada saat itu waktu menunjukan Pukul 5 pagi, otomatis kami tidak mungkin harus menunggu lama dan akhirnya kami memutuskan untuk menaiki motor kembali dengan ongkos perjalanan 15 ribu dibagi dua orang. Sesampainya ditempat parkir, kami dibebaskan untuk beristirahat sejenak disekeliling tempat baik itu makan maupun aktivitas lainnya. Bahkan karena teramat lama menunggu beberapa orang yang belum  semua kumpul dibus, beberapa bapak-bapak memilih untuk duduk-duduk dijalanan. Hehe

Usai semua orang sudah berkumpul semua dibus, akhirnya bus pun jalan untuk melanjutkan perjalanan ketempat ziarah kelima yang masih dalam satu kabupaten kudus yaitu Makam Sunan Muria yang tidak jauh dari makam sunan kudus juga.

Makam Sunan Muria (Kudus)

Sekitar Pukul 07.30 WIB, kami sampai ditempat parkiran bus. Makam Sunan Muria berlokasi cukup unik karena berada di atas Puncak Gunung Muria. Sehingga untuk menuju ke tempat Makam Sunan Muria ini dapat dikatakan lokasinya yang paling jauh dari makam-makam lainnya apabila ditempuh dengan jalan kali. Tapi kalau dilakukan dengan berjalan kaki, rasa-rasanya akan sangat lelah. Dimana kondisi jalan yang cukup menanjak berupa anak tangga yang berjumlah kurang lebih 432, dengan ketinggian 1.600 mdpl. Sehingga kami semua memutuskan untuk menaiki motor dengan tarif per- orangnya 15 ribu.  

Berada di Puncak Gunung Muria

Hal yang tak terduga bagi kami semua adalah ketika kita naik motor ini rasa-rasanya sungguh luar biasa dimana kami sempat takut dan terasa seperti akan jatuh. Mengingat si pembawa motor sangat cepat membawanya dan ditambah lagi jalan yang berkelok-kelok. Bersyukurnya kami semua aman dan selamat sampai puncak. Bahkan beberapa diantara kami merasa sangat kapok apabila harus manaiki motor ini kembali. Heehee…

Oke kita lanjutkan kembali ke makamnya ya. Setelah kita sampai semua sampai di puncak gunung muria, satu persatu dari kami pun menyempatkan ada yang kekamar mandi terlebih dahulu. Tidak lupa kami melakukan wudhu terlebih dahulu, agar memasuki makam dalam keadaan suci dan memakai pakaian yang bersih. Barulah setelah itu, kami pun langsung menaiki tangga menuju ketempat makam. Dan di Makam Sunan Muria ini, setiap orang biasanya menyempatkan membawa botol untuk diisi air yang ada didalam sekitar makam. Air suci ini dikatakan beberapa orang katanya bisa menyehatkan tubuh dan bisa menyembuhkan beberapa penyakit.

Sesampainya ditempat makam, terdengar suara para peziarah sedang melantunkan doa-doa. Kami pun lekas menempatkan tempat yang sudah akan kosong dari peziarah yang akan selesai membaca doanya. Usai berdoa, tak lupa beberapa diantara kami menuju ke tempat air suci yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Saya pun juga tak kalah untuk mengambil air dan ikut mengantri dari kerumunan orang yang akan mengambil air suci ini.

Berikutnya, kami melanjutkan perjalanan turun menuju bus. Dan kali ini, kami memutuskan untuk berjalan turun melewati tangga. Disaat kami turun, mata kami kembali dimanjakan dengan banyaknya toko-toko pedagang yang berjualan dengan beraneka macam barang maupun yang berbentuk makanan. Selain itu kita bisa menikmati perjalanan sembari menghirup udara pegunungan yang segar.

Saat berada disekitar toko-toko

Bagi saya sendiri, ditempat makam sebelumnya saya bisa menahan godaan untuk tidak membeli sesuatu apapun. Tapi untuk kali ini, rasa-rasanya saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membeli sesuatu baik itu yang berbentuk barang maupun dalam bentuk makanan. Bagaimana kita tidak tergiur untuk membeli, perjalanan menuruni tangga hingga sampai dibus cukup lama dan terlebih lagi kami juga cukup terasa lelah. Sehingga sambil kami istirahat, kami sempatkan untuk berkunjung ketempat toko-toko.

Lain halnya itu, selama perjalanan menuruni tangga ada hal yang membuat saya  yang awalnya memikirkan bahwa pada saat naik ke puncak Gunung Muria itu agak menyesal karena manaiki motor. Tapi, ketika melihat orang-orang yang memilih jalur jalan kaki dengan menaiki tangga itu terlihat sangat lelah dan benar-benar menguras tenaga. Sehingga bagi saya pribadi, walaupun dengan naik ke puncak gunung muria dengan kondisi naik motor itu lebih baik dibandingkan kita menaiki tangga dengan berjalan kaki. Intinya ada rasa sensasi tersendiri dan bisa menjadi pengalaman hidup yang bisa diceritakan nantinya. Tapi ketika akan turun menuju bus, barulah kita bisa melewati tangga dengan berjalan kaki. Lelahnya itu bagi saya malah tidak begitu rasa dan bahkan ada rasa senang tersendiri ketika menuruni tangga itu.

Usai sampai di tempat parkiran bus dan dengan suasana yang dapat dikatakan cukup panas. Kami pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, mengingat badan terasa lengket dan bau. Usai mandi, kami pun langsung bergegas berkumpul lagi menuju bus untuk melakukan perjalanan ketempat ziarah selanjutnya. Mengingat dari beberapa tempat ziarah, tempat ziarah ini termasuknya yang paling banyak memakan waktu ditempat.

Makam Mbah Sambu (Lasem, Rembang)

Tempat ziarah keenam ada di Lasem, kabupaten rembang yang tepatnya di makam Mbah Sambu. Mbah Sambu atau dikenal juga dengan Sayyid Abdurrahman merupakan tokoh legendaris di Kota Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Makam Mbah Sambu

Mengingat kami sampai ditempat ini lebih dari jam 12 siang yang menunjukan waktu dhuhur sudah tiba. Sehingga kami sempatkan terlebih dahulu untuk shalat dhuhur dan shalat ashar dijama’. usai shalat, barulah kami langsung menuju makam yang berada disamping masjid. Usai berdoa, kami pun langsung bergegas menuju ke bus dan melanjutkan perjalanan ke tempat ziarah yang ketujuh yaitu di Pasujudan Sunan Bonang yang lokasinya masih di Kabupaten Rembang.

Makam Sunan Bonang (Lasem, Rembang)

Sunan Bonang merupakan salah satu anggota wali sanga yang menyebarkan agama islam di pesisir Jawa. Bernama asli Raden Makdum Ibrahim.

Kurang Lebih sekitar Pukul 14.00 WIB, kami sampai ditempat parkiran bus yang disampingnya terdapat toko yang menjual ikan asin. Sebelum kami sampai di Makam Sunan Bonang, terlebih dahulu kami harus menaiki tangga terlebih dahulu hingga sampai puncak tangga. Barulah setelah itu kami berdoa bersama. Sedikit informasi aja, ada perbedaan ditempat ini ketika kita menaiki tangga atau menuruni ada beberapa orang meminta-minta uang.

Saat Menaiki Tangga
Foto Bersama

Usai dari kami menuruni tangga, panitia akhirnya memutuskan untuk kita foto bersama terlebih dahulu. Karena melihat cuaca yang cerah dan jaga-jaga kalau kunjungan tempat selanjutnya suasanya akan gelap. Sehingga akan lebih baik ambil foto bersama pada waktu itu. Dan akhirnya kami dapat melakukan Foto bersama ini yang merupakan foto pertama kami. Usai melakukan foto, beberapa kami ada yang menyempatkan beristirahat terlebih dahulu. Usai itu, kami melanjutkan perjalanan kembali ke klaten.

Perjalanan ke tempat ziarah kedelapan bisa dikatakan yang paling lama waktu perjalanannya dengan menempuh waktu hingga lebih dari 6 jam. Kalau bisa dikatakan, dari sopir bus ada kesalahan dalam memilih rute perjalanan yang berakibat terlalu lama sampainya. Bahkan ditengah perjalanan membuat kami harus memutuskan berhenti di rest area untuk setidaknya beristirahat sejenak sambil makan. Terlebih lagi bagi saya sejak siang dari makam sunan bonang hingga dipertengahan jalan menuju klaten belum makan nasi. Otomatis perut ini sunggulah terasa lapar dan pastinya harus membeli makan yang adanya nasinya.

Komplek Makam Sunan Pandanaran Bayat (Klaten)

Sekitar Pukul 22.30 WIB, kami sampai di tempat lokasi yaitu di komplek makam sunan pandanaran bayat. Makam Sunan Pandanaran ini berada di Desa Paseban, Kecamatan Bayat yang merupakan salah satu tempat wisata religi yang terdapat di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Makam Sunan Pandanaran cukup terkenal di kalangan para peziarah karena merupakan salah satu wali penyebar agama Islam di daerah tembayat pada zaman Kerajaan Demak dan juga merupakan murid Sunan Kalijaga.

Pintu Masuk Sebelum Menaiki Tangga

Sebelum menuju ketempat makam, tidak lupa kami sempatkan untuk shalat maghrib dan isya dijama’ terlebih dahulu. Usai shalat, kami pun langsung menuju makam dengan menaiki tangga. Usai ditempat makam, kami pun berdoa bersama dan bergegas menuju ketempat makam selanjutnya. Tempat selanjutnya kami ke magelang, tepatnya di makam KH. Dalhar watucongol.

Makam Aulia dan Ulama Gunungpring (Muntilan, Magelang)

Perjalanan menuju ketempat selanjutnya atau kesembilan bisa dikatakan sudah melewati hari yang ditentukan. Perihal jadwal yang ditentukan sebenarnya hanya sampai hari sabtu, namun pada saat kunjungan kedelapan ini sudah melewati hari minggu. Sehingga mau tidak mau kami harus tetap menjalankan perjalanan dengan tempat ziarah yang sudah direncanakan. Sesampainya dilokasi sekitar Pukul 03.00 WIB lebih, kami pun siap-siap turun dari bus dan berjalan kaki menuju ketempat makam. Sekitar Pukul 03.36 WIB, kami sampai ditempat makam dan melakukan doa terlebih dahulu. Usai berdoa, karena waktunya sangat pas menunjukan waktu shalat subuh, akhirnya kami shalat subuh terlebih dahulu.

Pintu Masuk Masjid dan Makam

Usai shalat kami menuju bus dan menyempatkan untuk berkeliling disekitar tempat hingga suasana terlihat cukup cerah dipagi hari. Dilokasi ini ternyata juga bisa dibilang sangat ramai dengan adanya deretan bus-bus yang tersusun dengan rapi, ditambah lagi dengan banyak berjejer toko barang dan makan yang sangat banyak. Membuat kami pun merasa aman-aman saja walaupun dengan waktu istirahat yang lama. Tak lupa kami pun melakukan foto bersama lagi.

Kembali ke Kampung Halaman

Kurang lebih sekitar Pukul 06.00 WIB, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ketempat ziarah yang terakhir atau yang kesepuluh di banyumas. Perihal waktu yang sudah tidak cukup dan akan sangat lama juga ketika kita akan memaksakan juga, akhirnya dengan kesepakatan bersama untuk langsung kembali kerumah.

Selama perjalanan, saya pun diajak berbincang dengan orang yang ada disebelah saya. Sehingga tidak banyak waktu tidur yang saya sempatkan, namun tidak lama akhirnya bisa tertidur juga. Tepat Pukul 10.30 tiba-tiba terdengar ban belakang meledug yang mengakibatkan menjadi kaget orang-orang yang sedang menikmati istirahatnya. Ketika dicek benar adanya, bahwasannya ban nya meledug dan harus diganti. Sambil ban diganti, kami pun satu persatu turun dari bus terlebih dahulu. Beruntungnya pada saat itu kami berhenti ditempat masjid dengan kondisi latar tempat duduk yang luas dan tempat kamar mandi yang bagus. Sehingga pada saat itu, kami bisa beristirahat sambil menunggu ban dipasang. Beruntungnya dari pihak busnya sendiri sudah membawa ban cadangan, sehingga ban cukup diganti dan dipasang. lain halnya itu, ketika orang-orang sedang duduk. Tiba-tiba datanglah ibu-ibu yang membawa barang dagangnya menuju kami, sontak beberapa orang langsung menuju ibu-ibu itu dengan membeli makanan camilan.

Setelah menunggu beberapa menit ban dipasang, akhirnya bus sudah bisa jalan kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju kekampung halaman kami. Kurang lebih sekitar Pukul 12.00 WIB kami sampai dirumah. Lagi-lagi kami perlu banyak bersyukur, dimana kami bisa sampai dirumah dengan selamat. Dan pastinya walaupun dengan kondisi lelah, tapi kami merasa bahagia dengan hal-hal pengalaman yang sudah kami dapatkan.radn

Berharap dilain kesempatan kami bisa melakukan ziarah kembali. Amin

Facebook Comments