Belajar Menjadi Pemimpin

Adakalanya manusia itu ada dibagian bawah maupun diatas. Begitu pula, saat kita berada didalam organisasi adakalanya menjadi anggota maupun ketua. Itu pasti akan terjadi disaat kita berada diorganisasi. Tinggal dari kita saja akan memilih dibagian mananya. Yang terpenting adalah apa yang engkau pilih sesuai dengan apa yang engkau inginkan, tetapi bukan karena untuk main-main.

Saya adalah salah satu orang diantara ribuan santri di Pondok Pesantren Al Hikmah 02 Benda yang mengikuti lebih dari dua organisasi. Salah satu diantaranya adalah Organisasi Daerah (ORDA) Himpunan Santri Banyumas. Karena notabenenya saya dari daerah Purbalingga. Dan daerah Purbalingga adalah termasuk karesidenan Banyumas, maka dari itu saya termasuk dalam Himpunan Santri Banyumas atau biasa disebutnya dengan nama HISBAN.

Di organisasi inilah saya banyak belajar dari mulai saling mengenal satu sama lain, bekerjasama, saling komunikasi, merasakan menjadi anggota bahkan menjadi pengurus. Dilain itu pun organisasi yang dinaungi lima daerah ini sudah saya anggap sebagai keluarga juga. Rasa senang, haru, suka duka bahkan sampai terjadi perdebatan itu adalah hal biasa. Karena itu manusiawi, setiap orang pasti akan mengalami keadaan seperti itu dikala berada dilingkaran banyak orang. Justru itulah yang menambah kekeluargaan semakin erat, karena banyak hal-hal yang sering dikerjakan atau dilakukan bersama-sama.

Berbicara pemimpin memang kedengarannya sungguh luar biasa. Banyak orang yang menginginkan jabatan itu, tetapi banyak juga orang yang justru menganggap bahwa pemimpin itu tanggung jawabnya besar. Sehingga takut apabila berada diposisi itu. Lain itu memang dari orangnya sendiri yang tidak berminat atau tidak suka berurusan dengan jabatan yang satu ini. Tidak masalah sebenarnya kita berada di posisi manapun, asal tujuan dan niatnya benar maka semuanya akan berimbas baik. Sebaliknya apabila niatnya hanya karena jabatan untuk dikenal orang. Disinilah Allah justru tidak suka dengan sikap orang ini.

Menjadi pemimpin itu tidak hanya ketika jadi presiden saja, tetapi arti pemimpin disini sangat luas. Pemimpin bisa diartikan sebagai seorang yang bisa mengkordinasikan serta dapat menginspirasi anggotanya. Sehingga ketika kita berada dilingkup yang kecil hanya dalam tataran ketua kelas, tetapi menurut teman kita justru bagus, maka akan menjadi hal yang baik.

Belajar menjadi pemimpin itu bisa dimana saja dan kapan saja. Karena sifat pemimpin yang memang cenderung menjadi pusat dalam satu lingkaran diskusi. Sehingga dalam menjadi satu tim kelompok itu pun sudah bisa dikatakan sebagai pemimpin. Hanya saja kita mau menjadi pemipin yang akan di senangi oleh rakyatnya atau justru malah sebaliknya.

Pengalaman menjadi pemimpin sudah saya mulai sejak berada dikelas 2 SMA, tepatnya di kelas Emercy MA AL HIKMAH 02. Memang sejak kecil yang hanya saya rasakan ketika menjadi pemimpin itu takut. Apalagi ketika disuruh menyiapkan barisan ataupun bertanggung jawab keseluruhan kelas. Tapi dari tanggung jawab itulah menjadikan diri saya kuat, mau belajar tegas dan tidak lupa dapat merasakan apa yang orang rasakan ketika menjadi pemimpin.

Setiap manusia punya kapabilitas untuk menjadi seorang pemimpin. Akan tetapi menjadi seorang pemimpin menurut saya memerlukan proses. Tombol kepemimpinan didalam diri seseorang memang sudah ada, akan tetapi sudahkah kita mencoba untuk mengaktifkan tombol kepemimpinan didalam diri kita sendiri? semuanya ada pada persepsi masing-masing. Sudah saatnya berhenti untuk jadi follower (pengikut). Sudah saatnya untuk mengaktifkan tombol kepemimpina didalam diri masing-masing. Seperti saya ini, yang awalnya hanya bilang takut dan tidak mau. Tetapi setelah mencobanya, justru ingin mencoba dan belajar dilain tempat.

Dalam berorganisasi pun apabila kita pahami setiap periode atau setiap ada kegiatan pasti dalam memimpin akan berganti-ganti atau dengan bahasa kerennya demisioner artinya harus ada penggantinya. Begitulah yang saya rasakan ketika berada di organisasi yang telah saya jelaskan diatas yaitu Organisasi daerah himpunan santri Banyumas itu.

Saya pernah memegang kegiatan yang bisa diakatakan cukup besar yaitu BSK (Bakti Sosial Keagamaan) yang diadakan setiap setahun sekali dan dilakukan pada saat bulan puasa diminggu terakhir. Kegiatan yang bisa dikatakan wajib bagi setiap santri ini memang cukup lelah untuk mengurusnya. Karena disinilah kita mulai untuk berkordinasi dalam memilih tempat, survey dan persiapan untuk mengatur anggota-anggota yang akan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Belum lagi ketika dalam perjalanan mengatur konsep kegiatan banyak pertentangan karena perbedaan pendapat satu sama lain.

Pemilihan daerah yang akan dijadikan kegiatan biasanya lewat musyawarah dari perwakilan daerah. Dan pada saat itu daerah Purbalingga yang memang layak untuk dijadikan sebagai tempat BSK. Disaat itulah perlu adanya salah satu ketua yang akan mengatur dan mengkordinasikan kegiatan ini. Berhubung daerah untuk kegiatan adalah dari daerah saya. Dan disaat itu pula kandidatnya kurang begitu banyak. Sehingga saya yang terpilih untuk menjadi ketuanya. Awalnya memang saya ragu untuk menerimanya. Karena tanggung jawabnya cukup besar. Sedang saya pun masih belajar dalam berorganisasi, sekaligus masih aktif dalam kegiatan belajar mengajar disekolah. Sehingga ada tantangan tersendiri untuk saya dapat membagi waktu untuk sekolah, belajar dan berorganisasi.

Tepatnya pada bulan Juni 2011, dua bulan sebelum kegiatan BSK dimulai. Saya pun sudah memulai mengkordinasikan dan menyusun rencana –rencana yang akan dilakukan bersama anggota – anggota yang sudah terpilih untuk membantu dalam menyukseskan kegiatan itu. Diawal rasanya agak canggung ketika harus bertingkah laku layaknya pemimpin yang bisa mengkondisikan suasana rapat sesuai tujuan. Tidak lupa perkenalan satu sama lain terlebih dahulu sesama panitia, agar nantinya saat bekerjasama tidak adanya malu untuk meminta bantuan, tetapi bisa dibiasakan seperti halnya keluarga dan teman.

Dalam perjalanan mengkordinasikan anggota banyak hal yang saya temukan dari mulai anggota yang kadang muncul kadang tidak, malas untuk mengerjakan atau mempunyai cara tersendiri dalam bekerja tim. Adakalanya juga sebagai seorang pemimpin harus tahu akan kondisi anggotanya. Mengetahui kondisi seseorang bisa dilakukan dengan bertanya langsung dengan orangnya ataupun lewat teman terdekat. Tidak semua orang bersifat terbuka, sehingga cara yang lain dengan kita minta bantuan kepada orang lain.

Kenapa sih kita harus mengetahui keadaan setiap anggota kita? Seperti halnya yang saya alami sebelumnya melihat keadaan anggotanya kadang tidak saya suka. Dalam hati berkata, ada apa sebenarnya yang mereka rasakan ? ada masalah apa mereka sebenarnya?. Disinilah fungsi pemimpin sangat perlu ada untuk dibutuhkan bagi anggotanya. Karena sebaik-baik pemimpin adalah yang dapat memberikan nasehat baik kepada anggotanya. Sehingga tidak lain saya pun harus memeberikan perhatian apabila memang anggotanya ada masalah. Dengan alasan agar nantinya dalam mengerjakan sebuah konsep tidak terganggu dan bisa diselesaikan dengan maksimal.

Bersyukurnya dalam sekali rapat banyak progress yang telah dikerjakan. sehingga mempermudah untuk mengerjakan hal-hal yang memang sangat urgent dilakukan. Tidak lain karena BSK itu setiap tahunnya kegiatan tidak jauh berbeda dan kepengurusan yang dulu selalu membuat laporan pertanggung jawaban (LPJ). Sehingga LPJ itu bisa menjadi acuan untuk dapat membuat rancangan kegiatan sekaligus dari evaluasi – evaluasi yang ada pada setiap kegiatan.

Satu bulan setelah cukup menyusun konsep, kemudian dihadapkan dengan survey ke tempat desa yang akan kita bantu dalam memberikan pengetahuan yang kita dapatkan selama berada dipondok. Disamping itu pula diselingi dengan penyeleksian peserta yang akan mengikuti kegiatan khusunya untuk santri putri HISBAN. Santri putra HISBAN biasanya hampir semua yang mendaftar diterima semua, karena memang yang mendaftar tidak sebanyak santri putri. Sebaliknya untuk santri putri HISBAN hampir setiap tahunnya ada seleksi, karena yang mendaftar cukup banyak. Seleksinya antara lain ada membaca qur’an, berpidato dan pengetahuan dalam Islam. Nantinya untuk peserta karena akan langsung diterjunkan maupun dihadapkan ke masyarakat, sehingga harus benar untuk memilihnya. Dipilihlah 110 peserta dengan jumlah 50 anak dari putra dan 60 anak putri. Banyaknya peserta yang dipilih memang tergantung dari jumlah rumah yang nantinya akan ditempati. Kebetulan memang kemarin hampir 20 tempat yang ditempati, dengan satu rumahnya minimal 3 – 6 orang. Sehingga memang cukup banyak anak yang dibutuhkan.
Untuk survey sendiri kami lakukan 2 -3 kali. Tujuan survey ini dari mulai perizinan tempat, keadaan lokasi baik untuk kegiatan maupun tempat tinggal, serta konsumsi. Lagi –lagi sebagai pemimpin juga perlu mengetahui keadaan, sehingga perlu mengikuti survey. Karena memang masih dalam lingkup pondok, sehingga perlu adanya perizinan dari pondok terlebih dahulu. Setelah disetujui barulah kami bisa melakanakan surveynya. Kadang perizinan pondok cukup susah, melihat banyak santri juga yang ingin izin untuk berpergian diluar pondok baik itu karena sakit atau ada kegiatan. Kadang harus sabar mengantri atau juga kadang ketika harus menunggu ketua pondoknya terlebih dahulu. Nantinya akan ditanyakan tujuan izinnya apakah diterima atau tidak. Kadang pula yang buat lama, ketika ketua pondoknya sedang keluar atau sedang ada acara. Sehingga kita harus menunggu dan bolak – balik. Tetapi dari situlah momen yang pernah dirasakan dipondok menjadi sebuah kenangan terindah.

Cukup ribet juga saat melakukan survey, apalagi ketika perjalanannya cukup jauh. Alhasil dalam sekali survey bagaimanapun caranya harus bisa diselesaikan semua, sesuai dengan list yang sudah kita rencanakan.

Hari berganti hari. Tibalah saatnya keberangkatan menuju tempat BSK di desa Siwarak, Purbalingga dari mulai tanggal 20 – 27 Agustus 2011. Kami pun bersiap – siap dari pondok dengan bersama –sama menaiki bis. Perjalanan kurang lebih ditempuh sekitar 5 -7 jam, cukup melelahkan memang apabila kita rasakan. Tetapi kegiatan yang diadakan pada Bulan Ramadhan dilakukan dengan kebersamaan, maka lelah pun akan terasa hilang.
Sampai ditempat BSK kami pun disambut dengan baik oleh warga desa siwarah. Sungguh ramah sekali mereka menyambutnya. Dan saat penyambutan dari kita pun, saya lah yang disuruh memberikan sambutan. Inilah salah satu tantanganku ketika harus berbicara dihadapan banyak orang. Saya yang belum terbiasa berbicara dihadapan banyak orang, harus bisa percaya diri dengan apa yang bisa saya katakan.

Alhamdulillah sedikit demi sedikit keberanian pun mulai tumbuh untuk bisa melawan rasa malu. Apresiasi dan tepuk tangan pun diberikan orang disekelilingku. Sungguh rasa senang akan itu, menjadikan diriku semakin berani untuk bicara didepan banyak orang. Biasanya juga rasa gemetaran pun kadang menghadang.

Hari pertama setelah pembukaan, kami pun dibagi menjadi 3 sampai 6 orang untuk menempati rumah penduduk warga desa masyarakat Siwarak. Disaat itulah nantinya kita akan mulai mengenal penghuni rumah dan akan ada kegiatan dimasing – masing mushala dari mulai mengajar TPA kepada anak –anak, pengajian untuk ibu – bapak serta memberikan ceramah baik setelah tarawih maupun subuh.

Disaat inilah saya merasa tenang dengan kegiatan yang sudah dimulai, harapannya semoga baik – baik saja. Berikutnya karena selain saya berada di POS peserta, saya pun harus bolak –balik ke tempat sekretariat untuk menyusun beberapa kegiaatn besar antara lain ada rebana, lomba anak –anak dan acara penutupun. Begitulah disaat memberikan kegiatan kepada mushala yang berada didekat rumah juga harus bisa mengatur kegiatan – kegiatan lainnya.

Luar biasanya karena saya percaya dengan teman – teman panitia BSK yang lain, alhasil acara yang ada bisa dilakukan dengan baik. Memang sudah selayaknya sebagai seorang pemimpin dapat saling percaya kepada anggotannya. Begitu sebaliknya anggota kepada pemimpin juga harus saling percaya.

Diakhir penutupun kami mengundang semua warga dari mulai anak – anak hingga orang tua, sehingga cukup banyak orang yang berdatangan. Disitulah saya harus memberikan sambutan terakhir. Rasa haru pun ada dimasing – masing orang. Waktu satu minggu terasa kurang untuk melaksanakan kegiatan ini. Tetapi melihat memang kegiatan BSK rentang waktunya hanya satu minggu. Sehingga kita harus melaksanakan sesuai prosedur yang ada.

Terakhir kalinya saya sangat berterimakasih kepada pengurus HISBAN, teman – teman panitia dan peserta yang sudah memperayai saya sebagai ketua. Banyak hal yang saya dapatkan disini. Semoga pengalaman kegiatan ini bisa bermanfaat bagi kita semua kelak dikemudian hari.

Facebook Comments