Ziarah Kubur Saat Hari Raya Idul Fitri

Sudah menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat untuk berziarah ke makam orang tua atau sanak saudara saat Idul Fitri tiba. Di makam tersebut para peziarah bersama-sama berdoa untuk orangtua dan saudara mereka. Begitupun saya pribadi merasa senang pada tahun ini dapat berkumpul kembali untuk lebaran bersama keluarga. Dan tradisi berziarah pun tak lekang kami lakukan usai selesai shalat hari raya idul fitri dan salin g memohon maaf satu sama lain.

Seperti yang pernah saya baca dalam beberapa artikel tradisi ziarah saat Idul Fitri ini yang dikatakan oleh  Pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta Kyai Munawwir Abdul Fattah menjelaskan bahwa ziarah dilakukan kapanpun diperbolehkan dengan tujuan menebalkan keimanan dengan mengingat mati.

“Ziarah di bulan suci Ramadan ataupun di Hari Raya, sekalipun sebenarnya tidak ada perintah dan tidak ada larangan. Dan karena tidak adanya larangan, orang yang suka ziarah mengambil inisiatif alangkah indahnya jika dapat kirim doa pada hari-hari yang penuh rahmat dan ampunan (hari-hari bulan Ramadan) dan hari yang bahagia (Idul Fitri).” kata Kyai Munawwir Abdul Fattah dikutip dari laman Nahdatul Ulama.

Apalagi bagi sebagian orang, belum lengkap rasanya jika belum meminta maaf dengan orangtua saat lebaran tiba. Untuk memperkuat pendapatnya, Kyai Munawwir juga mengutip hadis tentang ziarah ke makam orang tua. “Siapa ziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari jumat, Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatat sebagai bakti dia kepada orang tuanya (HR Hakim),”

ziarah pada bulan suci Ramadan ataupun pada Hari Raya Idulfitri, sekalipun sebenarnya tidak ada perintah dan tidak ada larangan. Dan karena tidak adanya larangan, orang yang suka ziarah mengambil inisiatif alangkah indahnya jika dapat kirim doa pada hari-hari yang penuh rahmat dan ampunan (hari-hari bulan Ramadhan) dan hari yang bahagia (Idulfitri).

Justru akan sangat bermakna bagi orang-orang yang sedang mudik ke kampung halaman, ia akan merasa tentram jika sebelum minta maaf kepada orang lain ia terlebih dahulu mengunjungi kubur orang tuanya yang (ketepatan) meninggal lebih dulu.

Pada bab tentang merawat jenazah dan problem-problemnya, Imam Suyuthi menukil dari Imam Ibnu Hajar dalan kitab Fatawi-nya yang mengatakan, “Ruh seseorang berkait dengan jasad selama jasad itu masih utuh, kemudian ruh itu lepas menuju Illiyyin atau Sijjin di sisi Allah. Ruh tadi bahkan masih berkait dengan jasad meski jenazah berpindah dari satu kubur ke kubur yang lain.”

Imam Harawi dalam Syarh Shahih Muslim dalam hal penjelasan mengenai hari ziarah mengatakan, “Tidak ada hadits shahih yang menerangkan ketentuan hari untuk melakukan ziarah kubur dan tidak pula ada pembatasan berapa kali ziarah.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدَيْهِ

Siapa ziarah ke makam kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jumat, Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatat sebagai bakti dia kepada orang tuanya. (HR Hakim)