Bukti Bahwa Alam Ini Tidak Berdiri Sendiri

Mungkin pada saat kita masih kecil, kadang kita sempat berpikir bahwa bumi atau alam ini berasal dari mana dan apakah ada yang membuatnya?. Bahkan, orang yang mungkin sudah dewasa pun sempat ada yang masih bingung atau tidak paham dengan adanya alam ini. Sehingga, dibawah ini saya akan mencoba berbagi dari apa yang pernah saya belajar dari guru, sebagai pembuktian bahwa apakah alam ini jadi dengan sendirinya dengan tanpa ada penciptanya?

Image result for timbangan

Ada salah satu sisi yang berat, tanpa ada sesuatu yang memberatkan itu tidak mungkin. Pastilah ada sesuatu yang bisa memberatkan, apapun itu bentuknya. Kita lihat saja contoh pada timbangan, apabila dalam sebuah timbangan kedua sisinya sama-sama kosong. Maka yang terjadi adalah dimana posisi itu pasti akan sama rata. Mengapa itu terjadi? Karena memang sesuatu yang ditimbangkan itu sama-sama kosongnya. Berbeda lagi ketika disalah satu timbangan itu diberi sejumlah 1 benda, maka disatu sisi timbangannya pasti akan mempunyai posisi yang berbeda dengan berakibat posisi miring.

Dapat kita lihat contoh lain juga, sebelum ada bumi, langit dan alam beserta isinnya ini keberadaannya merupakan sesuatu yang harus boleh ada dan boleh juga tidak ada. Semua alam ini termasuk sifatnya jaiz atau mungkin. Jadi, sebelum adanya bumi, apakah bumi boleh ada atau tidak? Bisa jadi mungkin bumi boleh ada dan boleh juga tidak ada.

Antara ada dan tidaknya sesuatu itu lebih ungul yang mana? Contoh saja, sekarang suasananya sedang tidak hujan, akan tetapi ada kemungkinan hujan akan turun maupun juga tidak turun. Sehingga, dapat diartikan akan sama saja antara yang mungkin dan tidak mungkin. Sehingga, kejadian ini lebih ke arah Allah SWT yangg berkendak untuk memutuskan apakah hujan itu akan turun atau tidaknya.

Kalau kita tahu juga, bahwa kenyataan alam yang sekarang sudah diciptakan, bahwa alam itu memang ada. Maka kondisi yang sekarang terjadi adalah bahwa ada. Dimana, yang lebih unggulah itu yang ada. Sehingga, tidak ada kemungkinan bahwa yang membuat dan menciptakan alam itu ada.

Image result for timbanganMenanggapi terkait timbangan yang berada pada posisi miring sebelumnya, tidak mungkin kita berpikir bahwa timbangan itu dalam posisi miring dengan sendirinya. Justru malah kita akan berpikir, bahwa timbangan yang miring itu pasti ada yang sesuatu yang menjadi penyebabnya. Jadi, mustahil atau tidak mungkin apabila timbangan itu akan miring dengan sendirinya, tanpa ada yang mencoba menyebabkan hal itu terjadi agar miring timbangan itu.

Begitu juga dengan orang yang mengatkan bahwa bumi itu muncul dengan sendirinya. Pastilah itu tidak mungkin, mengingat kita dapat melihat juga dengan kejadian timbangan yang membuat perubahan karena ada yang memberatkan. Contoh tadi merupakan salah satu contoh dari pikiran filsafat. Dimana pikiran filsafat itu dapat dikatkan sangat benar dan juga detail berpikir bahwa “Ada dan tidak ada itu menjadi sama-sama, dan memungkinkan ada sesuatu yang menyebabkan hal itu terjadi”. Dan pikiran filsafat ini cenderung lebih perputar pada akal, tidak sampai berpengaruh hingga sampai ke hati.

Misalnya, ada dua hal pernyataan, dimana yang satu menyatakan bahwa “Dua hal itu tidak mungkin bisa berkumpul, tapi kedua hal itu justru malah bisa menghilang kedua-duanya”. Contohnya : kata “Duduk dan “Lari”, Apakah keduanya dapat dikatakan bersama-sama atau tidak? Pastilah tidak bisa, karena ketika duduk pastilah juga akan tetap duduk, sebaliknya tidak mungkin kita lari tapi dibilang sedang posisi duduk. Tetapi dapatkah seseorang tidak sedang duduk dan lari? Jawabannya pastilah seseorang bisa saja melakukan dengan terbang dan bisa juga dengan berdiri. Sehingga, tidak diartikan bahwa tidak lari juga bukan sedang duduk.

Satu hal lagi menyatakan, bahwa “Dua hal itu tidak dapat berkumpul, tapi justru malah keduanya tidak bisa hilang”. Semisal, kiat ambil contoh pada kata “Diam” dan “Bergerak”. Apakah keduanya dapat dikatakan bersama-sama atau tidak? Pastilah tidak dapat bergabung, pasalnya tidak mungkin Diam itu dapat dikatakan Bergerak. Diam yang tenang, maka tidak ada gerakan sedikitpun. Akan tetapi, keduanya tidak dapat hilang, maksudnya harus ada salah satu yang dikorbankan untuk hilang.

Mengenal Allah dengan Merenungkan Ciptaan-Nya

Cara terbaik untuk mengenal Allah ialah dengan memperhatikan alam semesta serta menikmati keindahannya. Bukankah kehebatan dan keindahan alam semesta itu membuktikan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang  menciptakan dan memeliharanya? Ingin lebih yakin, haqul yakin bahwa adanya alam itu adalah salah satu bukti adanya Allah, Tuhan semesta alam?

Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari dan 8 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya. Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.

Bayangkan jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah. Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain yang artinya: “Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon: 61]

Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun tidak pernah bumi menabrak bulan, ataupun bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada. Hal tersebut seperti yang telah dijelaskan dalam firman Allah surat Yunus ayat 5 yang artinya: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus: 5]

Dan surat yasiin ayat 40 yang artinya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:

Artinya: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arasy dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d: 2]

Dari penjelasan diatas, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa kalau kita lihat alam atau bumi ini pastilah tidak lahir dengan sendirinya. Kalau jadi dengan sendirinya, pasti dapat dikatakan itu mustahil. Sehingga, pastilah ada yang menciptakannya. Dan sebagai seorang muslim, patutlak kita yakini bahwa Allah SWT yang telah menciptkan alam semesta ini beserta isinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *