Menikmati Indahnya Kota Manila, Filipina

Manila, ibukota dari Negara Filipina memang tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Asia Tenggara seperti Jakarta, Bangkok, dan Kuala Lumpur, dengan kepadatan lalu lintas, bangunan pencakar langit, hingga permukiman penduduk yang sangat padat. Dengan lebih dari 10 juta penduduk, menjadikan Manila salah satu kota kosmopolitan dunia sebagai pusat industri, ekonomi, budaya dan pendidikan di Negara Filipina. Sungai Pasig yang mengalir hingga bermuara di Teluk Manila, menjadi saksi mata perubahan Kota Manila dari sebuah perkampungan kecil yang awalnya bernama Maynila hingga menjadi kota terbesar di Filipina. Adalah Miguel Lopez de Legazpi, pada tahun 1570, menjadi pemimpin ekspedisi Spanyol yang berhasil menguasai Filipina dan menjadikan Manila sebagai salah satu pusat pemerintahan dengan mendirikan tembok sepanjang 4.5 km sebagai benteng pertahanan mengeliling area sekitar 64 hektar, yang kini dikenal dengan sebutan Intramuros.

Mengikuti sebuah event di Luar Negeri akan lebih menarik, apabila kiat juga bisa menyempatkan waktu untuk  berkunjung ke tempat wisata negara itu sendiri. Hal itu pun yang kadang coba saya lakukan dan usahakan dalam setiap menentukan pemasanan tiket, biasanya saya memanfaatkan adanya transit yang cukup lama maupun waktu program kami lebihkan beberapa hari untuk kami dapat berjalan-jalan. Khususnya yang sekarang saya alami, pada saat usai kegiatan program di Filipina. Kami mencoba untuk pesan tiket pesawat dengan adanya tambahan 1 hari waktu kosong. Alhasil, pada saat itu kami dapat berencana untuk memilih lokasi tempat-tempat yang akan kami kunjungi.

Beruntung, pada malam hari di Hotel dimana kami usai berkegiatan di Sanctuary Rizal, dari mulai tanggal 28-30 Agustus 2015, kami sudah cukup beristirahat dengan menikmati ruangan yang nyaman. Satu persatu dari kami pun mulai bersiap-siap untuk berkumpul ke bawah ruang makan untuk menyatap hidangan makan pagi. dimana setelah itu kami akan pergi hotel dan jalan-jalan di sekitar kota manila ini.

Saat Di Hotel

Saatnya, usai makan kami pun langsung bersiap-siap menuju keluar untuk pergi jalan-jalan. Sempat bingung juga sih, ketika kami akan memilih tempat yang akan kami kunjungi. Mengingat dengan jumlah kami ada 14 orang, 8 orang Indonesia, 5 orang vietnam dan 1 orang makaysia belum pernah sekalipun berada di Filipina. Alhasil, teman-teman panitia dari Filipina akhirnya turun tangan untuk membantu kami sebagai guide selama dalam perjalanan. Dalam hati, kami sangat senang sekali pada saat itu. Dimana kami dapat secara gratis ditemani selama dalam perjalanan.

Sebelumnya, mengingat untuk jalan-jalan kita tidak boleh membawa barang banyak-banyak. Sehingga, saran dari teman Filipina menyarankan untuk mengemasi barang-barang terlebih dahulu dan selebihnya dititipkan di bagian penitipan barang hotel. Setelah semua barang dicek, akhirnya kami pun siap-siap untuk melaju ke zona wisata. Rencana kami akan berkunjung ke Intramurros dan tempat wisata sekitarnya. Mengingat ditempat ini banyak hal-hal lokasi yang menarik untuk spot berfoto. Untuk sampai ke tempat ini, kami harus menaiki Jeepney terlebih dahulu. Jeepney ini bisa dikatakan nama angkot yang ada di Filipina.

Tidak lama kemudian akhirnya kita sampai di lokasi dekat Intramorus, dan sesaimpainya kami pun berfoto-foto didepannya.

INTRAMORUS

Kata Intramuros itu sendiri berasal dari Bahasa Latin yang artinya “di dalam tembok” merupakan distrik tertua dan kawasan pusat sejarah Manila. Intramuros merupakan Kota Manila yang asli, yang berfungsi sebagai tempat kedudukan pemerintah saat Filipina masih dikuasai oleh Spanyol. Oleh karena itu, distrik di luar Intramuros sering disebut Extramuros yang artinya “Di Luar Tembok”.

Pembangunan Intramuros ini sendiri dimulai oleh pemerintah kolonial Spanyol pada akhir abad 16 untuk melindungi Kota Manila dari invasi negara luar. Kota seluas 0,67 kilometer persegi ini awalnya berlokasi di sepanjang pesisir Teluk Manila, sebelah selatan Sungai Pasig. Reklamasi lahan selama awal abad 20 ini obscured tembok dan benteng dari teluk. Intramuros sendiri mengalami kehancuran hebat selama pertempuran untuk memperebutkan kembali kota dari Kependudukan Tentara Jepang selama Perang Dunia II. Pembangunan kembali dinding-dinding yang hancur dimulai tahun 1951 ketika Intramuros dinobatkan sebagai Monumen Sejarah Nasional, yang masih berlangsung sampai saat ini oleh Intramuros Administration (IA).

Tempat yang paling khas menurut kami adalah gerbangnya yang bergaya kolosal. Bangunan bersejarah ini lagi-lagi membuat saya kagum. Bukan karena kemegahannya, tapi kagum dengan suasana didalam benteng yang sangat asri, sejuk, dan bersih. Walaupun sangat sederhana, tapi nuansa ‘Spanyol’ sangat kental terasa. Sambil melihat-lihat beberapa peninggalan pemerintahan Spanyol, pengunjung ditemani oleh alunan musik ‘jadul’ yang bisa membuat kita terbawa suasana. Tak lupa, sebelum kami masuk ke tempat yang lebih jauh lagi. Momen foto pun akhirnya kami dapatkan, dimana teman dari Filipina sebagai fotografer kami juga selama dalam perjalanan.

Berada di Intramuros, kita juga akan disuguhi pemandangan sebuah kota yang bergaya ala Spanyol. Semua bangunan mulai dari benteng, biara, gereja, sekolah hingga rumah-rumah, memiliki cita rasa arsitektur yang sangat tinggi. Beberapa bangunan bersejarah itu antara lain Fort Santiago, Manila Cathedral, Gereja San Agustin, Casa Manila, Plaza Santo Tomas, Ateneo Municipal de Manila (Clamshell 1), Colegio de Sta. Isabel (Clamshell 2) ataupun Beaterio-Colegio de Sta. Catalina.

Palacio del Gobernador

MANILA CATHEDRAL

Masih di kawasan Intramuros, kami menuju Manila Cathedral. Gedung Manila Cathedral ini termasuk salah satu gedung bersejarah di Intramuros. Salah satu yang paling megah dengan banyak ornamen arsitektur klasik Roman peninggalan masa pendudukan Spanyol di Filipina. Bangunan bersejarah ini berdiri sejak abad ke-15 ini juga dikenal dengan nama Manila Metropolitan Cathedral-Basilica. Manila Cathedral berada persis dibelakang Plaza de Roma. Bangunan yang kini berdiri adalah struktur dan konstruksi yang kedelapan kali dibangun setelah tujuh kali mengalami kehancuran akibat dari kebakaran, gempa bumi, angin topan, dan perang. Dibangun pertama kali tahun 1571 bersamaan dengan dibangunnya benteng dan tembok yang mengelilingi Intramuros. Tahun 1958 katedral selesai direkonstruksi dan tahun 2012 kembali direnovasi hingga dibuka untuk umum tahun 2014.

Tiga pintu utama dengan enam patung menjadi tampilan fasad gereja. Juga sebuah menara menjulang tinggi dengan penunjuk waktu di keempat sisinya. Terdapat pula prasasti dengan bahasa latin dibagian atas pintu masuk gereja yang tertulis “Tibi cordi tuo immaculato concredimus nos ac consecramus”. Seluruh bangunan menggunakan batu travetin, yakni berupa batu kapur berserat dengan dominasi warna coklat muda yang juga sering ditemukan pada bangunan di Italia dan Spanyol. Sepuluh pilar utama berjejer di kanan dan kiri serta struktur balok yang melengkung pada bagian interior gereja hingga berujung di sebuah altar yang sangat indah dengan patung Bunda Maria dan latar belakang kaca patri yang juga terdapat di seluruh jendela hasil karya seniman Filipina Galo Ocampo. Warna coklat mendominasi interior gereja mulai dari keramik lantai, hiasan dinding hingga bagian langit-langit.

Katedral ini pernah mengalami beberapa kali pemugaran akibat perang, kebakaran, angin topan dan gempa bumi. Katedral Manila juga menyimpan benda-benda bersejarah yang bernilai karya seni dan religius, seperti peninggalah Paus serta mantan uskup agung di Man.

CASA MANILA

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke Casa Manila. Casa Manila merupakan salah satu museum bersejarah di kawasan Intramuros. Di sini kita dapat melihat bangunan rumah tinggal yang menggambarkan lifestyle, kehidupan orang di rumah tinggal pada masa pendudukan Spanyol jaman dahulu.

SAN AGUSTIN CHURCH

Selain Manila Cathedral, gereja Katolik Roma lainnya di sekitar Intramuros yaitu San Agustin Church. Menjadi salah satu warisan dunia UNESCO tahun 1993, Gereja Katolik Romawi ini merupakan gereja dengan konstruksi batu tertua di Filipina yang mulai dibangun tahun 1587 dan selesai tahun 1607. Sebutan awal gereja ini adalah Church of Saint Paul, juga mengalami beberapa kali kehancuran. Tampilan fasad gereja yang lebih sederhana dibanding Manila Metropolitan Cathedral dengan sebuah pintu masuk utama, empat pilar dan dua buah patung yang mengapitnya. Tiga buah jendela berjejer dibagian atas dan sebuah jendela bulat dengan kaca patri perisi berada dibawah salib.

Bangunan yang berbentuk huruf L dimana bagian sisi kanan adalah gereja, sisi kiri merupakan museum dan dipisahkan sebuah menara berbentuk segi delapan serta plaza dibagian tengah untuk parkir kendaraan pengunjung. Batu travetin masih menjadi idola di beberapa bangunan di Intramuros, pun juga dengan Gereja San Agustin. Tidak seperti bagian fasad yang lebih sederhana, bagian interior gereja ini lebih rumit dibandingkan Manila Metropolitan Cathedral. Sepuluh pilar utama dengan lengkungan balok dan ukiran disetiap sudut interior gereja. Ukiran tiga dimensi mendominasi dengan warna putih dan coklat ditambah lagi ornamen lampu dan patung menambah indah satu dari empat gereja dengan gelar Baroque Churches of The Philippines.

Desain arsitekturnya berbeda dengan arsitektur klasik Roman di Manila Cathedral. Gereja San Agustin ini juga merupakan gereja tertua di Filipina Nampak dari luar gereja ini terkesan tidak ada yang istimewa kecuali ukurannya yang besar, tapi begitu masuk kedalam, kesan sederhanaan itu hilang seketika. Lukisan-lukisan tua dan arsitektur di dalamnya sangat menakjubkan. Selain sebagai tempat ibadah, mungkin gereja ini lebih cocok disebut sebagai museum yang banyak menampilkan karya seni kelas tinggi.

PORT SANTIAGO

Sungai Pasig

Berada tepat di tepian Sungai Pasig tak jauh dari Marina Bay, Fort Santiago merupakan benteng kuno yang dipugar oleh Kolonial Spanyol usai mengalahkan Raja Sulayman. Fort Santiago digunakan oleh Spanyol tak hanya sebagai benteng pertahanan militer, tetapi juga penjara dan tempat eksekusi. Di benteng ini pula pahlawan nasional Filipina, Jose Rizal, dieksekusi oleh Spanyol pada tahun 1896. Dari beberapa referensi sejarah dunia, Fort Santiago awalnya adalah sebuah bangunan dinding atau pagar perlindungan yang terbuat dari kayu dan tanah yang dibangun oleh Rajah Sulaiman, pemimpin masyarakat melayu. Pagar itu berdiri di kawasan bernama Maynilad. Nama Maynilad inilah nantinya menjadi cikal bakal nama Manila.

Tahun 1570, Kapten Martin de Goiti dan Juan de Salcedo dari Spanyol melakukan ekspansi ke wilayah Maynilad atas perintah Gubernur Jenderal Miguel López de Legazpi. Ini mereka lakukan karena pusat kekuasaan mereka sebelumnya yakni Cebu, di rebut oleh pasukan Portugis. Terjadilah pertempuran maha dahsyat di Manila. Pada tahun 1571 Maynilad jatuh ke tangan Spanyol dan dimulailah masa penjajahan Spanyol. Nama Philippine konon diambil dari nama Philip II, raja yang menguasai kerajaan Spanyol di masa itu.

Benteng pagar pasukan rajah sulayman itu dibangun kembali dengan menggunakan batu sebagai bahan utamanya. Dibangun ulang mulai tahun 1590 dan selesai pada tahun 1593 pada masa pemerintahan gubernur jenderal Gómez Pérez Dasmariñas dan diberi nama Santiago.

Selain sebagai benteng, Fort Santiago juga berfungsi sebagai penjara. Ratusan orang ditawan dan kemudian tewas di dalam fort Santiago. Salah satu tokoh ternama yang ditawan disini adalah José Protacio Rizal Mercado y Alonzo Realonda alias Jose Rizal, pahlawan nasional Philipina. Dia adalah tokoh pergerakan rakyat philipina yang berperang lewat pemikiran dan tulisan-tulisannya yang kritis. Dia ditawan atas dakwaan menghasut dan melakukan pemberontakan. Selama di Fort Santiago, Rizal mendekam dalam sebuah rumah tahanan yang kini diberi nama The Rizal Shrine.

Pada tanggal 30 Desember 1896, Jose Rizal digiring keluar dari Fort Santiago untuk dieksekusi mati didepan regu tembak dihadapan rakyat Manila. Oleh karena itu pada tanggal 30 Desember rakyat Philipina merayakan sebagai Rizal Day dan merupakan hari libur nasional. Jejak langkah terakhir Jose Rizal, mulai keluar dari The Rizal Shrine hingga keluar dari gerbang Fort Santiago diabadikan berupa jejak emas yang bisa kita temui di fort Santiago.

Transportasi Massal Jaman Perang Dunia II

Didalam Port Santiago, kalian juga akan menemukan Jejak langkah kaki Rizal (pahlawan kemerdekaan filipina), dimana ceritanya model rumah manila dalamnya sih perabotan kayu-kayu yang tidak boleh difoto – info teman di manila ini bukan aslinya rumah orang manila sepenuhnya. José Rizal bukanlah tokoh militer, pun juga tokoh politik. Dia seorang seniman, penyair dan penulis.

Berkeliling Intramuros sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Kita bisa menaiki mobil, karena jalanan di Intramuros bisa dilalui kendaraan. Bagi yang ingin lebih menikmati suasana bisa berjalan kaki atau naik kereta kuda yang cantik bak kereta kencana. Sungguh, berada di Intramuros, seolah-olah membuat kita tidak percaya bahwa kita berada di tengah sebuah kota metropolitan seperti Manila.

Berikutnya nanti kalian akan menemukan bagian pintu masuk terdapat penjaga dengan seragam biru. Tidak ada pemeriksaan apapun untuk kalian masuk, sehingga untuk kesini gratis. Benteng ini terdiri dari 2 tingkat. Di bagian bawah terdapat taman-taman yang ditata dengan indah, ada juga penjara sempit (diduga dulu digunakan Spanyol untuk memenjarakan pemberontak Filipina yang menginginkan negara itu merdeka), serta lorong-lorong dengan batu yang disusun gaya busur melengkung khas bangunan Eropa.

Setelah asyik menikmati perjalanan disekeliling bangunan yang indah nan megah. Rasa lelah pun kami rasakan, hingga saatnya kami untuk beristiharat terlebih dahulu. Sekaligus kami mencari makan untuk mengisi perut yang kosong. Beruntung disekitar tempat kami banyak tempat makanan yang dapat kami temukan. Hanya saja beberapa dari kami ada yang mau pulang duluan, pasalnya jadwal penerbangan mereka lebih cepat di waktu siang. Sedang kami yang dari Indonesia jadwal penerbangan peswatnya masih sekitar sore hari. Sehingga masih ada waktu untuk kami makan siang terlebih dahulu.

Usai makan, kami langsung bersiap-siap menuju ketempat hotel untuk mengambil barang-barang kami untuk dibawa menuju Bandara Filipina. Mengingat waktu penerbangan pesawat tinggal 3 jam lagi, sehingga kami harus dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya agar dapat sampai dengan tepat waktu. Untuk menuju bandara, kami ber 8 orang memakai taksi bersama dengan tujuan dapat mempercepat waktu kami.

Dan akhirnya kami pun sampai di Bandara, dan langsung mencari tempat ruang tunggu. Dimana selain kami membicarakan terkait penerbangan nanti, kami pun sempat berdiskusi mengenai hal perjalanan kami usai sampai di Singapura. Pasalnya, saat di Singapura 6 dari 8 orang mempunyai jadwal waktu penerbangan dengan transit 1 hari. Alhasil, kami harus memikirkan tempat penginapan kembali, sekaligus kami harus menentukan tempat wisata yang akan kami kunjungi saat nanti di Singapura. Beruntungnya, dari kami mempunyai usulan untuk menghubungi kedua teman kami dari AYLA yang bertempat tinggal di Singapura. Dengan harapan, saat di Singapura mereka dapat membantu kami dalam hal penginapan maupun mengajak kami saat berjalan-jalan di Singapura.

Berikutnya, penerbangan dari Filipina menuju Singapura pun siap terbang. Kami pun langsung bergegas masuk menuju dalam pesawat. Berdoa semoga perjalanan tetap aman. Dan pada saat sampai di singapura, kami akan selamat dan ada kemudahan selama berada di Singapura.

Ingin tahu cerita kami selanjutnya di Singapura, Silahkan baca cerita blog selanjutnya menginai cerita saya mengenai jalan-jalan ke Singapura.

See you tomorrow.