Part 2 (Thailand) : Tiba di Mae Kampong, Thailand

Tiba di Mae Kampong, Thailand

Rasa bahagia terpancar dari wajah masing-masing peserta, dimana kami telah sampai di tempat program kami. Dimana kedatangan kami juga disambut sangat baik oleh warga. Satu-persatu dari kami pun mulai berkumpul di tempat pembukaan. Acara dibuka oleh panitia dari Thailand dengan bahsa campuran, bahasa Thailand dan bahasa Inggris. Pasalnya warga desa disini juga tidak jauh berbeda dengan warga desa yang ada desa kami, dimana mereka tidak dapat berbicara dalam bahasa inggris.

Usai pembukaan acara, barulah dari masing-masing kami dibagi kelompok untuk ditempatkan satu rumah dengan jumlah 4 orang. Dan kebetulan 3 orang dari kami dari ugm yaitu saya, king dan angga dan 1 orang lainnya dari UB ada satria serta kita dikenalkan dengan ibu yang nantinya kita berada di homestay yang kita tempati. An Houn itu nama ibunya.

Berfoto dengan Ibu dan Teman Satu Homestay

Sesampainya ditempat homestay yang akan kita tempati selama berprogram di mae Kampong ini, tidak lupa kami berberes terlebih dahulu untuk menata barang-barang kami, serta melihat keadaan tempat tidur yang ada. Cukup nyaman tempat yang disediakan disini, dengan kasur yang empuk, selimut yang berlapis-lapis untuk menghangatkan saat dimalam hari, pemandangan nan indah yang dapat dilihat dari luar jendela, serta tidak lupa kamar mandi khas desa ini yang bagus. Senang sekali rasanya dapat berada ditempat yang baru ini.

Berada di Depan Homestay

Tidak lama ibu yang mempunyai homestay ini memanggil kami untuk menuju kebawah dan menyuruh kami untuk makan pagi. Awalnya sih kami sempat bingung dari apa yang dikatakan oleh ibunya, karena ibunya tidak bisa mengucapkan dalam bahasa inggris dan hanya bisa bahasa thailand. Sehingga kami cukup kesulitan  untuk berkomunikasi dengan beliau. Tapi tak apalah, kami rasa kami akan paham dengan apa yang ibu sampaikan. Hari pertama dirumah ini, kami dihidangkan makana asli disini pokoknya, dari muali apple, chicken, dll. Karena ini masakan pertama kami di thailand, sehingga ada rasa baru yang semestinya berbeda. Dari mulai cara penyajian, tempat makan, cara makan, dan lauk pauknya. Tetapi saya sangat dari bagaiman pola hidup makan didesa ini yang menjunjung kebrsamaan keluarga saat makan. Dimana saat makan, satu keluarga harus makan bersama dan satu sama lain biasanya akan mencoba memberikan makanan kepada yang lainnya.

Selesai makan, barulah kami kembali ketempat tidur. Ada yang menyempatkan untuk menata barang kembali, ada yang mandi untuk membersihkan diri selama kurang lebih 1 hari tidak mandi, dan ada ynag menyempatkan untuk menikmati udara segar diluar.

Menu Makan

Jalan-jalan di Mae Kampong Mountain

Saatnya kegiatan pertama setelah kita sampai di Mae Kampong, kami disuruh kumpul terlebih dahulu setelah makan. Dan program pertama kami adalah menyusuri gunung untuk menikmati keindahan di atas gunung mekampong. Sebelum kami berangkat, kami para peserta dibagi menjadi 3 tim dan dipandu oleh salah satu masing-masing dari warga Mae kampong itu sendiri. Dibagi dalam tim, agar selama perjalan menuju atas pegunungan bisa teratur jalannya.

Perjalanan Menuju Pegunungan Mae Kampong

Perjalanan pun dimulai dengan menyusuri tempat pemukiman disekitar mae Kampong. Dan pastinya kami akan secara langsung berhadapan dengan warga yang ada dilur rumah, kami pun harus saling sapa menyapa dengan mereka. Karena kami dari negara Indonesia dan kami juga punya sopan santun dalam berjalan. Seperti layaknya gunung yang di Indonesia, dimana kita akan menyusuri seperti hutan yang terdapat banyak pohon-pohon yang tumbuh. Ditengah perjalanan, kami juga menemukan air terjun dan tangga yang didesain bagi pengunjung. Sehingga adanya air terjun dan tangga yang didesain untuk berjalan menjadikan spot kami untuk berfoto-foto.

Sekitar kurang lebih dari jam 9 pagi sampai sekitar jam 11 pagi kita sampai dipuncak gunung. Pastilah kita tidak ada habis-habisnya untuk melakukan foto bersama dan momen makan bersama juga.

Foto Bersama Anak-anak UGM di Puncak Pegunungan Mae Kampong

Setelah selesai berfoto dan makan, barulah kita turun dari arah jalan berbeda saat awal memulainya. Untuk jalan ini memang berbeda sekali, disekeliling jalan itu terdapat bebatuan semua dan kondisinya terus turun. 2 jam perjalanan hingga sampai di homestay cukup melelahkan bagi kami. Tapi kami tetap merasa puas dengan kegiatan yand ada, khususnya ada kebersamaan dengan peserta lain. Dimana dalam setiap perjalanan dari kami banyak menyempatkan waktu untuk saling mengenal diri dengan cerita masing-maisng kehidupan di kampusnya

Saat Berfoto Bersama Semua Peserta

Usai kami tiba di homestay, ada agenda lain yang akan dilakukan. Namun, agenda yang seharusnya dilaksanakan antara jam 10 sampai 11 tidak bisa dilakukan sesuai waktu. Sehingga agenda selanjutnya dilakukan hanya untuk merasakan pijitan dari warga sini pada waktu sore hari. Pijitan warga disini sudah cukup terkenal, sehingga pijitan atau yang bisa kenal dengan massage menjadi salah satu daya tarik pengunjung ketika berada disini.

Massage oleh warga Mae Kampong

Sore hari, sekitar pukul 4 sore kita sampai di homestay, dimana kami menyempatkan untuk istirahat sebentar dan menunggu kedatangan ibu-ibu dari warga Mae Kampong untuk melakukan massage ke kita. Dimana secara bergantian massage dilakukan setiap masing-maisng kamar. Bagi kami, terasa menyengankan saat massage itu dilakukan, bahkan dengan nyaman kami ingin dibawa tidur. Karena waktu massage cukup lama dan beberapa diantara kami ada yang belum, maka massage dilanjutkan lagi setelah makan malam sekitar jam 7. Sekitar jam setengah 9 selesai untuk massagenya. Berikutnya kami kembali beristirahat dengan berbaring dikasur, karena sudah cukup lelah dengan aktivitas pada hari ini.

Disela-sela ngobrol dengan satu kamar. Akhirnya satu-persatu dari kami pun tidur untuk beristirahat. Sebelum itu, karena ini awal pertama kami tidur disini dan belum mersakan suhu dimalam hari. Sehingga bagi kami yang jarang merasakan dinginnya suhu dibawah 4-100C, maka akan merasakan dingin sekali. Sebenarnya, rasa dingin itu sudah sejak sore hari. Namun puncak dinginnya memang pada saat malam hari. Beruntung, kami disediakan selimut cukup tebal di homestay, sehingga selimutnya bisa menghangatkan kami.

Namun saya yang tidur terakhir dibanding teman kalinnya, dimana saya mencoba untuk membuka laptop dan mengerjakan sesuatu. Barulah sekitar jam 12 malam saya baru tidur. Disela-sela tidur, sempat saya bangun karena merasa kedinginan. Dan saya ingat, bahwa saya tidak memakai selimut pada saat itu. Alhasil saya merasa dingin. Walaupun begitu, saat saya memakai selimuti 2 buah pun masih tetap terasa dingin. Tapi sudahlah dinikmati saja tidurnya, dan besok juga akan berganti hari lagi.

Selamat Tidur.