Part 1 (Thailand) : Perjalanan Menuju Thailand, dalam Program Budaya

Budaya menjadi suatu hal yang penting bagi identitas diri bangsa maupun dari daerah kita sendiri. Dimana setiap negara maupun daerah yang mempunyai perbedaan budaya, menandakan bahwa ada keunikan tersendiri yang dapat memberikan ciri khasnya. Sehingga, selayaknya kita yang tinggal di tanah Indonesia dapat menjaga dan mengembangkan budaya kita sendiri. lain halnya itu, mengingat di Bumi ini terdapat jutaan manusia dan beberapa negara dengan berbagai macam budaya. Tidak ada salahnya, kalau kita pun dapat memahami dan belajar budaya lain, akan tetapi tetap menjaga budaya kita juga. Seperti halnya salah satu program yang diadakan oleh organisasi Seventeen Project yang mana bergerak dibidang sosial yang didirikan oleh kumpulan mahasiswa yang telah melakukan berbagai kerjasama international dari pengalaman organisasi sebelumnya dan mengikuti beberapa program international diberbagai negara.

Pada tahun 2015 lalu, Seventeen Project mengadakan program pertamanya yang bernama Indonesia Youth Culture Exchange (IYCE) 2015  yang bertempat di Chiang Mai dan Bangkok, Thailand. Program ini bertujuan untuk saling berbagi pengalaman tentang budaya antara pelajar Indonesia dan pelajar Thailand.  Selain itu, IYCE 2015 yang dilaksanakan di Chiang Mai berharap akan memberikan dampak positif pada masyarakat disana, pelajar Indonesia belajar langsung tentang tata cara kehidupan penduduk local, serta ikut perpartisipasi dalam kegiatan seluruh penduduk disana untuk mendapatkan ilmu baru dan memberikan dampak positif langsung kepada masyarakat Thailand.

Dalam program ini, pelajar Indonesia juga akan memarkan budaya Indonesia kepada masyarakat disana sebagai upaya penyelamatan kearifan lokal yaitu budaya tari daerah dan juga promosi di tingkat internasional. Bukan hanya itu, interaksi bersama salah satu Universitas di Thailand serta forum group discussion bersama KBRI Indonesia di Thailand akan menambah wawasan baru tentang pentingnya budaya yang harus dilindungi. Dari situlah, didapatkan tujuan akhirnya agar dapat menumbuhkan rasa cinta budaya Indonesia dan pentingnya menjaga serta melestarikan budaya lokal Indonesia. Pelajar Indonesia akan membuat sebuah project bersama dalam upaya melestarikan kearifan lokal Indonesia.

Pada saat itu, kebetulan ada teman organisasi yang mengajak saya untuk mengikuti kegiatan itu. Awalnya sih memang cukup bingung untuk menentukan apakah saya mau ikut atau tidaknya. Karena belum sekalipun saya pergi ke luar negeri, dan ditambah dengan kemampuan Bahasa Inggris saya yang bisa dikatakan masih cukup. Tanpa rasa takut, saya pun langsung mencoba untuk memulai mendaftar dan mengisi perintah dari pertanyaan yang ada. Beruntungnya juga, pada saat pendaftran tidak ada syarat dimana kita dharus mempunyai passport terlebih dahulu. Sehingga tidak memberikan kendala bagi kami yang tidak mempunyai passport, bahkan yang saya tahu hampir sebagian peserta yang belum mendaftar belum mempunyai passport.

Akhirnya, setelah beberapa hari kemudian menunggu pengumuman hasil lolos seleksi. Beruntungnya nama saya terncatum didalam daftar dengan 47 peserta lainnya. Sungguh rasa syukur sebesar-besarnya berkat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada saya pada saat itu untuk dapat memulai merasakan perjalanan ke luar negeri kedepannya.

48 Peserta Lolos Selesi Program IYCE 2015

Persiapan Keberangkatan

Setelah dinyatakan lolos, pastilah akan ada sesi baru dimana saya harus mulai fokus dan mulai mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan. Mengingat pergi ke Luar Negeri tidak semudah kita berkunjung ke daerah yang ada di Indonesia, akan berbeda lagi ketika akan berkunjung di negara orang. Dimana Passport menjadi identitas kita yang harus ada ketika kita akan melakukan perjalan di luar negeri.

Beruntungnya juga pada saai itu saya berada di Jogja dan tempat pembuatan passport juga tidak jauh dari tempat tinggal saya. Saya pun harus menjadwalkan waktu untuk pembuatan passport, agar nantinya dapat terselesaikan dengan cepat. Mengingat dalam kurun waktu 2 bulan sebelum keberangkatan, banyak  sekali kegiatan dan kesibukanku yang mana harus aku kerjakan baik itu organisasi maupun tugas dari kampus. Apalagi disaat masih ada praktikum, organiasi masih aktif, dan disaat itu juga sedang musim-musimnya akan Ujian Akhir Semseter. Pastilah harus mempersiapkan belajar juga.

Beberapa minggu setelah pengumuman, passport pun sudah mulai saya urus. Lain  halnya itu, karena program ini semata bukan bebas biaya. Akan tetapi ada biaya yang harus dibayarkan, seperti halnya biaya pesawat, makan, hotel, dan kunjungan. Sehingga, mau tidak mau melibatkan orang tua untuk meminta biaya pembayaran. Tapi beruntungnya karena status saya adalah mahasiswa, dan pihak akademik fakultas dan universitas kami sangat mendukung mahasiswanya kegiatan di Luar Negeri. Akhirnya saya mencoba untuk mengajukan pendaanaan sesuai dengan biaya pengeluaran, untung-untung dapat menghemat biaya selama program.

Dan hasilnya memang luar biasa, dana dari kampus turun dan orang tua juga memberikan izin untuk keberangkatanku. Sehingga saya tinggal mempersiapkan keberangkatan yang akan dibutuhkan lainnya. Dimana di luar negeri juga ada beberapa perturan barang-barang yang harus dibawa atau tidak. Dan kadang-kadang dengan perbedaan musim juga, kita harus bisa menyesuaikannya.

Lain halnya itu, kita para peserta IYCE 2015 juga diberi tugas oleh pihak penyelenggara program. Dimana kita disuruh membuat project menampilkan budaya yang ada di indonesia, seperti halnya tarian. Kebetulannya karena masing-masing tim sebagian besar dari masing-maisng universitas. Dan di tim kami pun berjumlah 7 orang, dengan komposisi 6 orang dari Ugm dan 1 orang dari UB. Karena hampir semua dari UGM, sehingga memudahkan kami untuk mempersipakan latihan tarian yang akan kita tampilkan. Dari situ juga mempermudah kami dalam berkomunikasi keberangkatan dan kepulangan nantinya. Diawal karena kami baru kenal, sehingga banyak obrolan terlebih dahulu untuk bisa saling kenal satu sama lain. Barulah, pembicaraan selanjutnya tentang pemilihan tarian yang akan ditampilkan. Tidak hanya tarian yang kita bahas, kita pun mencoba membahas kebrangkatan dan barang-barang yang akan kita bawa. Mengingat peserta yang dari berbagi kampus dan daerah, sehingga di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta menjadi titik kumpul peserta IYCE 2015. Hari pertama kumpul hanya membicarakan masalah tarian yang akan kita pilih dan membagi tugas untuk mencari referensi dari masing-maisng tarian. Diantara tarian yang akan kita pilih adalah Tari Saman, Tari Serampang 12, dan Tari Piring.

Pertemuan selanjutnya, barulah kami menentukan satu tarian yang akan kita pilih. Dan kesepakatan bersama, kami memilih Tarian Tari Serampang 12 yang berasal dari Sumatera Utara. Kurang lebih 1 minggu kami latihan dan sempat membuat video juga. Karena membuat video dan diuploud di Youtobe juga salah satu tugas peserta IYCE 2015. Beruntunglah tugas kami terselesaikan dengan baik, dan kami pun terus berbincang masalah keberangkatan dari jogja.

Barang Yang Diharuskan Dibawa


Hari demi hari, selang waktu tinggal beberapa minggu dan passport saya juga sudah jadi. Dimulai dari barang-barang sudah ada dalam daftar buku panduan yang diberikan oleh panitia IYCE 2015, yang menjadi acuan untuk apa-apa yang harus dibawa dan diperhatikan. Selanjutnya untuk transport sampai kebandara Soekarno Hatta yang sebelumnya dari obrolan kami saat latihan nari, didapatkan hasil untuk pesan tiket dari stasiun lempuyangan sampai di stasiun pasar senen jakarta dan setelah sampainya dijakarta akan diganti dengan kendaraan yang rencananya apabila ada penyewaan mobil atau nanti akan naik taksi ke stasiun gambir kemudian baru menuju ke bandara.

Dalam memlilih barang-barang pun dari kami masih ada kurang paham mengenai barang bawaan yang harus dibawa dan tidak. Sehingga masih belum maksimal untuk memilihnya, beruntungnya dari Panitia IYCE memberikan komunikasi yang lebih dengan dibentuknya gabungan seluruh peserta dalam satu grup line. Dilain itu pun dari tim UGM membuat grup whatshaap. Sehingga dalam berkomunikasi pun cukup lancar. Lain halnya, sempat dari kami juga ada yang mengkordinir untuk penukaran uang. Mengingat beberapa dari kami juga ada yang belum mencobanya. Tapi beruntunglah semua segala persiapan yang ada telah selesai semua, dan berikutnya tinggal kami siap-siap untuk mengiktui programnya.

Mata Uang Thailand

Keberangkatan Jogja-Jakarta-Thailand

Hari sabtu, 24 januari 2015 hari dimana sore harinya saya akan siap-siap untuk berangkat dari stasiun jogja ke jakarta. Setelah malamnya cukup menata barang hingga larut malam, menjadikan besok siang harinya terasa ngantuk dan lelah. Sehingga suasana seperti ini terasa ingin tidur. Tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan, mengingat keberangkatan kereta jam 4 sore. Setidaknya jam 3 sudah sampai di stasiun. Bagaimanapun aku harus bisa memaksakan diri  untuk bisa berada di stasiun sebelum jam stengah 4 sore.

Dengan dibantu Mas Rudi, teman satu kontrakan dijogja saya berangkat dengan diboncengnya. Dan sampailah juga distasiun lempuyangan, Yogyakarta. Di stasiun kami harus menunggu satu sama lain, hingga benar semua sudah berada ditempat. Kereta yang dijadwalkan keberangkatannya pukul 16.45, ternyata diundur menjadi pukul 17.15. beruntunglah kami semua sudah berada di stasiun semua, jadi bisa dikatakan aman lah. Beberapa menit kemudian kereta datang, satu persatu dari kita pun langsung masuk gerbang untuk naik kertea.

Kereta yang dijadwalkan sampai di stasiun pasar senen jam 1 pagi. Tapi ternyata sampai jam 3 pagi lebih. Beruntung pada saat kami sampai di stasiun dan keluar, tiba-tiba dari luar langsung ada penawaran sewa mobil. Akhirnya tanpa pemikiran lama, kami pun akhirnya naik sampai bandara. Disitupun ternyata ada satu teman kami yang dari jember ber pas-pasan dengan kami saat dibandara. Sehingga dia ikut bersama kami menuju bandara.

Kurang lebih jam 4 pagi kami sampai dibandara. Disaat itu karena semua hal yang berkaitan untuk pengecekan tiket dan bagasi ada dipanitia. Maka kita memutuskan untuk cari tempat istirahat terlebih dahulu dan menyempatkan shalat subuh terlebih dahulu. Usai kami shalat, kami memutuskan untuk berada di mushala dulu untuk tidur (beristirahat). Barulah ketika waktu sudah cukup terang, maka kami memutuskan untuk pergi untuk mencari tempat titik kumpul semua peserta IYCE 2015. Berhubung dari panitia juga sudah sampai di bandara, kami pun langsung bergabung dengan mereka. Sambil menunggu lain, beberapa dari kami menyempatkan untuk mencari makan disekitar bandara, pasalnya perut kami juga perlu diisi makanan. Agar tenaga kita juga nantinya kuat saat perjalanan menuju Thailand.

Berfoto Di Depan bandara

Usai makan sekitar pukul 8 pagi, dan waktu juga masih sekitar 4 jam untuk kita siap-siap checkin. Akhirnya kita menyempatkan untuk berfoto-foto terlebih dahulu dan ada pula yang memilih untuk menyempatkan beristirahat. Barulah, beberapa jam kemudian  kami diperbolehkan untuk checkin barang-barang yang nantinya akan dimasukkan dalam bagasi. Setelah pengecekan barang-barang selesai, kemudian kita melakukan cetak tiket sebagai tiket masuk nantinya dipesawat. Bila dilihat-lihat memang cukup melelahkan juga ntuk melakukan seperti ini. Sambil menunggu waktu untuk kita masuk ke pesawat, dari panitia mengdakan briefing keberangkatan untuk menjelaskan bagaimana perjalanan yang akan kita lakukan.

Briefing keberangkatan

Saat waktu menunjukan pukul 12, kami pun berbondong-bondong dengan membawa barang masing-masing naik keatas untuk menunggu diruang tunggu keberangkatan pesawat Jakarta-Thailand. Sebelum berangkat, berhubung waktu sudah menunjukjan dhuhur, kamipun menyempatkan waktu terlebih dahulu untuk shalat dhuhur dan ashar. Lagi-lagi kita harus rela menunggu sampai keberangkatan pesawat sekitar jam 16.45 WIB. Dengan rasa sabar juga, sebelum diruang tunggu keberangkatan kami harus melewati beberapa pengecekan barang-barang lagi. Sampai-sampai ada minuman teman kami yang lupa dibawa, akhirnya disita oleh petugas. Tapi lumayanlah bagi saya untuk memahami hal-hal terkait pesawat seperti ini, pasalnya ini pertama kalinya saya menaiki pesawat dan terlebih lagi dalam melakukan perjalanan ke Luar Negeri.

Saat Berada di Ruang Tunggu Bandara

Usai puas waktu kami untuk menunggu dan menungu, akhirnya terdengar panggilan nomer pesawat kami pun dipanggl. Pesawat yang kami tumpangi kali ini adalah Pesawat Air Asia. Sebelum berada dipesawat, kita diantar oleh Bus Air Asia untuk menuju pesawat karena berhubung jarak yang ditempuh dengan berjalan kaki cukup jauh. Saat itu, kami pun mulai naik dan mencari tempat duduk masing-maisng yang sudah tertera di boardingpass. Bagi yang belum pernah naik pesawat, dari pemandu pesawat akan menyampaikan pesan selama berada dipesawat dengan tujuan agar penumpang dapat paham akan kondisi dan nyaman selama perjalanan. Hal itu juga  berhubungan dengan keselamatan para penumpang, salah satu contoh keselamatn selama pesawat adalah kita diharuskan mengikat pinggang untuk menjaga kita agar kuat ditempat duduk serta kapan kita harus memakai atau tidaknya, kemudian ada penjelasan juga apabila ada suatu kejadian yang tidak diperkirakan dan nantinya kita diharuskan memakai pelampung.

Setelah informasi yang disampaikan pemandu selesai, perlahan pesawat sedikit demi sedikit lepas landas, barulah kemudian pesawat pun terbang. Dan selama dipesawat diberitahukan juga, bahwa cuaca memang agak kurang baik. Hal itu menjadikan kepanikan yang ada muncul pada setiap orang. Beruntungnya saat berada diatas, kejadian peswat yang sempat goyang tidak berlangsung lama karena cuaca yang buruk itu. Sehingga keadaan pun menjadi aman lagi, dan penumpang pun nyaman selama berada dipesawat.

Kurang lebih pukul setengah 9 malam sampai di Bandara Dong Mueang International Bangkok, Thailand. Akhirnya sampai juga kami di thailand, dengan rasa sayukur kami dapat selamat sampai tujuan. Satu persatu kami keluar dari pesawat dan menuju tempat kedatangan. Dimana kami harus mengisi identitas kami dan ada pengecekan passort serta barang bawaan kami.

Setelah selesai pengecekan, kami pun menyempatkan untuk duduk dan kumpul bersama semua terlebih dahulu. Tibalah panitia dari thailand mrngucapkan selamat datang atas telah sampai. Jadi panitia program ini tidak hanya berasal dari Indonesia saja, namun ada dari negara Thailand juga. Dengan tujuan memang komunikasi dan perjalanan di Thailand juga cukup mudah. Selanjutnya, ada pengarahan kembali untuk perjalan menuju ke tempat program. Pasalnya program awal di Thailand berada di salah satu desa, namanya Mae kampong, Chiang Mai. Dengan kondisi temppanya dipegunungan. Mengingat perjalanan kami kurang lebih membutuhkan waktu sekitar lebih dari 10 jam untuk sampai di Mae Kampong, dan sekarang menunjukan waktu 9 malam. Maka dari itu, akan membutuhkan waktu sekitar pukul 7 pagi kita baru sampai di Mae Kampong.

Setelah selesai dari kumpul untuk briefing. Kemudian kita langsung keluar menuju bus yang disediakan untuk menuju ke tempat Mae Kampong. Dan bus yang satu ini berbeda dengan bis yang biasa kita naiki, bis tingkat namanya atau kalau di thailand menyebutnya dengan nama Double Decker Bus. Bus tingkat ini merupakan bus yang pertama kai saya naiki, sehingga awalnya cukup heran juga. Kami pun bergegas untuk masuk dalam bus, dan menempatkan diri dilantai 2 bus. Karena waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tempat cukup lama, kami pun menyempatkan diri untuk beristirahat. Sebelum istirahat, beberapa dari kawan-kawan ada yang menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang dan makan-makan ringan terlebih dahulu. Istirahat dalam perjalanan menjadi pilihan, pasalnya perjalanan kami dilakukan waktu malam hari, sehingga keadaan disekeliling jalan tidak begitu terlihat sekali.

Saat Berada di Bus

Usai perjalanan yang cukup panjang dan matahari pun muncul menyinari kami yang sedang tidur nyenyak. Sontak satu persatu dari kami mulai bangun untuk melihat di sekeliling jalan, dan dilihatnya sebentar lagi akan sampai dilokasi. Sebelum sampai di Mae kampong, kami harus melewai Chiang Mai terlebih dahulu untuk berganti kendaraan. Dimana kendaraan yang awalnya menggunakan bus, kemudian diganti dengan mobil pick up. Karena posisi di Chiang Mai menuju Mae Kampong seperti kita mau naik gunung yang cukup tinggi.

Akhirnya sampai juga kami sampai di Chiang Mai dan turun di tempat Pom Bensin untuk mengganti kendaraan. Bus pun kembali berjalan kembali sekitar jam 6 pagi untuk melanjutkan perjalanan ketempat chiang mai. Setiap masing-masing peserta dibagi dalam mobil pick up yang ada. Kebetulan mobil pick up yang saya tumpangi berada dikloter terakhir. Selama perjalanan, kami merasakan udara yang dingin dan sejuk menyelimuti tubuh kami. Beruntung pada sat di Chiang Mai kami sudah memakai jaket, sehingga perjalanan akan aman-aman saja.